Cerpen Romantis: Di Bawah Hujan, Kita Pernah Tertawa (Karya Risti Windri Pabendan)
π Di Bawah Hujan, Kita Pernah Tertawa
✍️ Karya: Risti Windri Pabendan
Hujan Pertama, Kenangan Pertama
Langit sore itu mendung, kelabu pekat menggantung rendah di atas atap rumah-rumah. Angin membawa aroma tanah basah bahkan sebelum hujan turun. Aku menatap keluar jendela kamar, melihat daun-daun mangga bergoyang pelan diterpa angin, lalu tiba-tiba kilat kecil membelah langit.
Hujan pertama musim itu akhirnya jatuh. Rintik-rintik kecil membasahi halaman, lalu dalam hitungan menit berubah menjadi deras. Suaranya menimpa genteng, beradu dengan kaca jendela, membentuk irama yang anehnya terasa akrab.
Aku tersenyum samar. Hujan selalu punya cara membawaku kembali pada satu kenangan: tawa yang dulu pernah terdengar jelas di bawah guyuran derasnya.
Namanya Arga.
Kami dulu tetangga sekaligus sahabat. Rumahnya hanya berjarak dua gang dari rumahku. Masa kecilku penuh oleh kebersamaan dengannya berlari-larian di lapangan, bermain layangan, hingga tertawa basah-basahan di bawah hujan.
Aku masih ingat betul satu sore bertahun-tahun lalu. Kami pulang sekolah, mendadak hujan deras turun. Anak-anak lain berlarian mencari teduh, tapi tidak kami. Arga malah menggandeng tanganku dan tertawa lepas.
“Kenapa takut basah? Bukankah lebih menyenangkan begini?” katanya.
Aku ikut tertawa, meski sepatuku becek, seragamku basah, dan rambutku meneteskan air. Tapi bersama Arga, semuanya terasa ringan. Di bawah hujan, dunia serasa hanya milik kami berdua.
Waktu berlalu. Kami tumbuh remaja, lalu dewasa. Hubungan kami berubah. Tawa di bawah hujan perlahan berganti dengan jarak yang semakin melebar. Arga pindah kota bersama keluarganya saat SMA, dan sejak itu komunikasi kami terputus.
Tentu, ada media sosial, ada telepon, ada surat. Tapi entah mengapa, kami tidak pernah benar-benar menjaga hubungan itu. Hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Hingga bertahun-tahun kemudian, yang tersisa hanyalah kenangan samar tentang seorang sahabat yang pernah mengisi sebagian besar masa kecilku.
Namun setiap kali hujan turun, tawa itu kembali. Seolah-olah hujan adalah jembatan antara masa lalu dan hatiku yang sekarang.
Hari ini, di tengah hujan deras yang membasahi kota, aku berdiri di beranda rumah dengan payung di tangan. Aku berencana ke warung dekat gang untuk membeli beberapa kebutuhan. Hujan deras tidak membuatku ragu. Entah kenapa, aku justru merasa ada yang memanggilku untuk keluar.
Aku melangkah pelan, payung terbuka, menembus jalan kecil yang becek. Suara hujan menemaniku sepanjang jalan. Dan saat aku sampai di dekat perempatan gang, mataku terpaku.
Di seberang jalan, berdiri seseorang dengan payung hitam. Tubuhnya tinggi, tegap, dan cara ia berdiri begitu akrab.
Ketika ia menoleh, waktu seakan berhenti.
Itu Arga.
Aku terdiam di bawah payung, jantungku berdetak kencang. Rambutnya kini lebih rapi, wajahnya lebih dewasa, tapi matanya masih samamata yang dulu selalu berbinar ketika hujan turun.
Arga tersenyum kecil, lalu menutup payungnya. Tanpa peduli derasnya hujan, ia melangkah ke arahku. Air menetes dari rambutnya, membasahi kemejanya, tapi ia tetap berjalan, seolah hujan tidak pernah menjadi musuhnya.
Aku tercekat, seakan kembali menjadi anak kecil yang dulu pernah tertawa bersamanya di tengah jalan yang banjir.
“Masih suka hujan?” tanyanya begitu sampai di depanku.
Aku nyaris tak bisa menjawab. Suara hujan terlalu keras, tapi hatiku lebih riuh lagi.
Aku hanya mengangguk pelan.
Dan di bawah hujan itu, tanpa aba-aba, aku merasa seolah bertahun-tahun yang hilang mendadak runtuh. Kami kembali menjadi dua orang yang dulu pernah tertawa tanpa takut basah.
Jarak yang Tidak Pernah Hilang
Hujan masih turun deras ketika kami akhirnya berteduh di sebuah warung kopi kecil dekat perempatan. Arga, dengan rambut basah dan senyum yang nyaris sama seperti dulu, duduk di kursi kayu seberangku. Aku masih belum bisa percaya, setelah bertahun-tahun, dia benar-benar ada di hadapanku.
“Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana,” kataku sambil menatap cangkir kopi panas di depanku. Uapnya menari pelan, menghangatkan wajahku yang masih dingin oleh hujan.
“Mulai saja dari apa yang kau rasakan,” jawab Arga tenang. “Itu biasanya lebih jujur daripada cerita panjang yang kita simpan.”
Aku tersenyum hambar. Kata-katanya masih sama, lugas, sering kali membuatku tidak bisa bersembunyi. “Aku… rindu. Itu yang kurasakan sekarang.”
Arga menatapku lama, lalu menunduk sambil mengusap nape rambutnya yang basah. “Aku juga. Setiap hujan turun, aku selalu ingat tawa kita. Lucu, ya? Hujan bisa jadi pengikat yang lebih kuat daripada pesan singkat atau surat.”
Keheningan sejenak jatuh di antara kami. Suara hujan di atap warung menjadi latar yang terlalu akrab. Aku ingin mengatakan lebih banyak, tapi lidahku kelu.
“Kenapa kau tidak pernah menghubungiku, Arga?” akhirnya aku bertanya. Suaraku lebih lembut dari yang kusangka, tapi ada getir di dalamnya.
Arga terdiam. Ia menatap keluar, melihat hujan yang mengguyur jalanan. “Karena aku pengecut.”
Aku mengerutkan kening. “Pengecut?”
“Ya.” Ia menarik napas panjang. “Setelah pindah kota, hidupku berantakan. Aku sibuk menyesuaikan diri, lalu masuk kuliah, lalu kerja. Aku selalu berpikir: nanti saja aku hubungi. Tapi waktu berjalan cepat, dan setiap kali aku ingin menulis pesan, aku takut. Takut kau sudah berubah, takut kau sudah melupakanku. Jadi aku memilih diam.”
Aku menggigit bibir. “Tahu tidak, diam itu lebih menyakitkan daripada apapun. Aku menunggu kabar darimu. Setiap kali hujan turun, aku berharap ada pesan singkat masuk. Tapi yang ada hanya sepi.”
Arga menatapku, matanya basah bukan karena hujan. “Aku tahu. Dan itu salahku.”
Aku menunduk, berusaha menahan gejolak di dada. Pertemuan ini seperti membuka kotak luka lama yang selama ini kupendam.
“Aku kira aku sudah melupakanmu, Arga,” kataku lirih. “Aku sudah belajar hidup tanpamu. Tapi sekarang kau muncul lagi, dan semua yang berusaha kulupakan tiba-tiba kembali.”
Arga mencondongkan tubuh, suaranya rendah. “Mungkin itu artinya, ada yang memang tidak bisa dilupakan.”
Aku menatapnya, mencoba membaca maksudnya. Matanya jujur, tapi juga penuh dengan sesuatu yang ia tahan.
“Jangan bicara begitu,” kataku akhirnya, dengan suara sedikit gemetar. “Hidup kita sudah jauh berbeda. Kau punya duniamu sekarang, aku punya duniaku sendiri. Kenangan tidak bisa kita ulangi begitu saja.”
Arga menunduk. Tangannya mengepal di atas meja, lalu melepasnya perlahan. “Mungkin kau benar. Tapi bukankah hujan ini juga sudah membuktikan bahwa beberapa hal bisa kembali, bahkan setelah lama hilang?”
Hening lagi. Hanya suara sendok beradu dengan cangkir dari meja sebelah. Aku merasa duniaku berputar terlalu cepat.
Lalu, tiba-tiba, Arga berkata pelan, hampir seperti bisikan, “Aku pernah mencintaimu, dulu.”
Aku membeku. Kata-kata itu seperti petir di tengah hujan.
“Apa?” tanyaku, meski aku jelas mendengar.
Arga menatapku, kali ini tanpa ragu. “Aku pernah mencintaimu. Bahkan mungkin sampai sekarang. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakannya dulu. Aku pikir kau hanya sahabat, aku takut merusak itu. Jadi aku memilih diam. Dan ketika aku pergi, aku kehilangan kesempatan selamanya.”
Dadaku sesak. Tawa di bawah hujan, kebersamaan, semua yang dulu terasa sederhana, kini berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang selama ini tidak pernah kuanggap ada.
“Apa kau sadar betapa kejamnya kau?” suaraku bergetar. “Kau menyimpannya sendiri, lalu pergi begitu saja. Kau membuatku menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Air mata hampir jatuh, tapi aku tahan. “Dan sekarang kau muncul lagi, dengan pengakuan itu. Kau pikir aku bisa apa, Arga?”
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatapku, seolah matanya ingin menyampaikan semua yang gagal diucapkan lidahnya.
Hujan masih deras di luar. Tapi di dalam warung kecil itu, suasana lebih riuh dari badai. Aku menunduk, tidak sanggup menatapnya lagi.
Aku sadar satu hal: pertemuan kembali ini bukan hanya tentang tawa di bawah hujan. Ini tentang luka, cinta yang tidak pernah terucap, dan kemungkinan yang mungkin sudah terlalu terlambat.
Dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk menghadapinya.
Hujan yang Membawa Luka
Aku tidak bisa tidur malam itu. Kata-kata Arga berputar di kepalaku seperti gema yang tak kunjung berhenti.
“Aku pernah mencintaimu. Bahkan mungkin sampai sekarang.”
Bagaimana bisa ia mengatakannya setelah bertahun-tahun hilang tanpa kabar? Bagaimana bisa ia kembali, seolah semua yang kutanggung sendirian selama ini hanyalah jeda kecil dalam cerita kami?
Aku menatap jendela kamar. Hujan masih turun, deras, seakan langit tahu ada badai yang juga sedang melanda hatiku.
Keesokan harinya, aku sengaja menghindari jalan yang sama. Tapi takdir punya caranya sendiri. Di depan toko buku kecil dekat pasar, aku melihatnya lagi. Arga berdiri, menunggu, seperti tahu aku akan lewat.
“Kita perlu bicara,” katanya cepat sebelum aku sempat berbalik.
Aku menahan napas, lalu mengangguk. Kami masuk ke kedai kopi yang berbeda dari semalam, lebih sepi, lebih gelap. Aroma kopi pekat memenuhi ruangan, tapi tak mampu menenangkan dadaku yang penuh sesak.
“Kenapa kau menghindar?” Arga membuka percakapan.
Aku menatapnya tajam. “Kau tahu kenapa. Aku tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kau datang setelah bertahun-tahun, lalu tiba-tiba berkata kau mencintaiku. Apa kau pikir aku bisa menerimanya begitu saja?”
Arga menunduk, lalu menatapku lagi dengan mata yang penuh sesal. “Aku tidak berharap kau langsung menerimaku. Aku hanya tidak ingin lagi menyembunyikan kebenaran. Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu.”
Aku menghela napas panjang. Ada bagian dari diriku yang ingin memaafkan, ingin percaya, ingin kembali tertawa di bawah hujan bersamanya. Tapi ada juga bagian lain yang terluka, bagian yang mengingat setiap malam menunggu kabar yang tak pernah datang.
“Arga, aku ingin tanya satu hal,” kataku akhirnya. “Kalau kau benar mencintaiku, kenapa kau tidak pernah kembali lebih cepat? Kenapa menunggu sampai sekarang?”
Ia terdiam lama, lalu suaranya keluar pelan. “Karena aku tidak hanya pengecut. Aku juga terikat.”
Keningku berkerut. “Terikat?”
Arga menunduk, wajahnya tegang. “Aku sudah bertunangan.”
Kata-kata itu menghantamku seperti badai. Aku tercekat, menatapnya dengan mata melebar. “Apa?”
“Iya,” jawabnya lirih. “Aku bertunangan dua tahun lalu. Dia perempuan baik, perhatian, yang selalu ada di sisiku. Tapi setiap kali hujan turun, aku merasa aku berkhianat. Karena dalam hatiku, aku selalu kembali padamu. Itulah sebabnya aku memberanikan diri kembali ke kota ini. Aku tidak ingin menikah sambil menyimpan cinta untuk orang lain.”
Tanganku gemetar di atas meja. Rasanya ingin menampar, ingin marah, ingin berteriak. Tapi yang keluar hanya suara parau: “Kau sadar betapa kejamnya itu? Kau menghancurkan dua hati sekaligus. Hatiku, dan hati perempuan yang sudah menunggu untuk jadi istrimu.”
Arga menutup wajah dengan tangannya. “Aku tahu. Dan aku benci diriku sendiri karenanya. Tapi aku juga tidak bisa hidup dalam kebohongan. Aku harus tahu… apakah masih ada kita. Kalau tidak, aku akan pergi, dan kali ini benar-benar tidak kembali lagi.”
Aku berdiri, kursi bergeser keras di lantai. “Kau pikir aku mau jadi alasanmu meninggalkan dia? Kau pikir cinta itu cukup untuk menebus semua luka yang kau buat?”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. “Tidak, Arga. Terlambat. Kau datang ketika semuanya sudah terlalu rumit.”
Orang-orang di kedai mulai melirik, tapi aku tidak peduli. Aku berlari keluar, menembus hujan tanpa payung. Biarlah tubuhku basah, biarlah dingin menusuk. Lebih baik daripada harus duduk di hadapan lelaki yang memberiku harapan sekaligus menghancurkannya.
Arga menyusulku, berlari dalam hujan deras. Tangannya mencoba meraih pergelangan tanganku, tapi aku menepisnya.
“Jangan ikuti aku!” teriakku di tengah jalan basah yang sepi.
“Tolong dengarkan aku!” suaranya parau, bercampur dengan suara hujan. “Aku tidak ingin kau salah paham. Aku mencintaimu, sejak dulu. Aku tidak bisa melupakanmu. Bahkan saat aku mencoba, wajahmu selalu kembali.”
Aku berhenti, menatapnya dengan air mata bercampur hujan di pipiku. “Kalau kau benar mencintaiku, kau tidak akan biarkan aku menunggu sendirian dulu. Kau tidak akan biarkan aku merindukanmu tanpa kabar. Kau tidak akan bertunangan dengan orang lain hanya untuk kembali padaku. Itu bukan cinta, Arga. Itu hanya ego.”
Arga terdiam, terengah-engah. Matanya penuh putus asa, tapi aku tidak bisa lagi membedakan apakah itu cinta atau hanya rasa bersalah.
Kami berdiri di tengah hujan, saling menatap dengan jarak yang seakan tidak bisa dijembatani lagi. Dulu hujan adalah tawa kami, kini ia menjadi saksi luka yang terlalu sulit disembuhkan.
Aku berbalik, melangkah pergi. Arga tidak mengejarku lagi. Suara langkahku tercampur dengan gemuruh hujan, seakan langit pun tahu: tawa yang dulu pernah ada kini hanya tinggal gema yang menyakitkan.
Jalan yang Berpisah
Beberapa hari setelah pertemuan itu, aku berusaha kembali menjalani rutinitas. Tapi setiap langkahku terasa berat, seperti ada bayangan yang terus mengikutiku. Setiap kali hujan turun, kenangan malam itu kembali menghantam, membawa wajah Arga, kata-katanya, dan luka yang ia tinggalkan.
Aku mencoba sibuk. Membenamkan diri dalam pekerjaan, membaca buku, bahkan menyalakan televisi hingga larut malam hanya untuk tidak memberi ruang bagi pikiranku berkelana. Tapi percuma. Sebab luka hati tidak bisa ditutupi dengan kebisingan luar. Ia akan selalu mencari celah untuk menyelinap, menyiksa, mengingatkan.
Suatu sore, aku memutuskan berjalan ke taman kota. Hujan baru saja reda, jalanan masih basah, udara wangi tanah yang basah menenangkan. Anak-anak kecil berlarian sambil tertawa, seolah dunia tidak mengenal patah hati. Aku duduk di bangku kayu, memandangi langit senja yang berwarna jingga pucat.
“Aku tahu aku salah.”
Suara itu membuatku tercekat. Aku menoleh, dan di sana dia berdiri. Arga, dengan wajah lelah, matanya redup seperti langit sore.
“Kenapa kau masih mengikutiku?” tanyaku pelan.
“Aku tidak bisa membiarkanmu membenciku tanpa penjelasan yang utuh,” jawabnya, lalu duduk di bangku yang sama, menjaga jarak tapi tetap dekat.
Aku menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak dalam dada. “Lalu, apa lagi yang ingin kau jelaskan? Bukankah sudah cukup? Kau mencintaiku, tapi kau juga bertunangan. Itu semua sudah jelas, Arga. Tidak ada ruang untuk kita.”
Ia menunduk, tangannya meremas celana. “Aku tahu. Dan aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin kau tahu satu hal… aku akan membatalkan pertunanganku.”
Aku menoleh cepat, menatapnya tak percaya. “Apa? Kau gila? Bagaimana dengan dia? Dia tidak salah apa-apa. Dia hanya mencintaimu.”
“Aku tahu. Itu sebabnya ini sulit. Tapi aku juga tidak bisa menipu dia dengan hati yang bukan sepenuhnya miliknya. Aku tidak ingin menjalani hidup yang penuh kebohongan.”
Aku menelan ludah, hatiku bergetar. Ada bagian dari diriku yang ingin bersorak, merasa lega, bahkan bahagia. Tapi bersamaan dengan itu, ada rasa bersalah yang menghantam seperti gelombang besar.
“Arga, dengar aku,” kataku pelan. “Aku tidak ingin menjadi alasan seseorang terluka. Kalau kau benar ingin membatalkan pertunangan itu, lakukanlah karena hatimu sudah bulat. Jangan karena aku. Jangan letakkan beban sebesar itu di pundakku.”
Ia terdiam lama, lalu menatapku dengan mata sendu. “Tapi bagaimana pun, aku ingin kau tahu. Aku memilihmu. Meskipun pada akhirnya kau menolakku, aku ingin hidupku jujur. Dan jujurku adalah… aku tidak pernah bisa melupakanmu.”
Dadaku sesak mendengarnya. Kata-kata itu manis sekaligus beracun. Membuatku ingin percaya, tapi juga takut jatuh lebih dalam.
Aku berdiri. “Aku butuh waktu, Arga. Jangan menungguku memberi jawaban sekarang. Aku harus memikirkan semuanya dengan kepala jernih. Aku lelah.”
Arga tidak menahanku kali ini. Ia hanya mengangguk pelan. “Baik. Aku akan menunggu. Tapi kalau suatu hari kau memilih untuk benar-benar pergi, aku akan menerima.”
Aku melangkah pergi, meninggalkannya di bangku taman itu. Angin senja berhembus, dingin, menyentuh wajahku yang basah oleh air mata.
Untuk pertama kalinya sejak ia kembali, aku merasa sedikit lega. Karena aku berani menetapkan batas, berani menjaga diriku sendiri dari badai yang lebih besar. Tapi lega itu bercampur dengan ketakutan: bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika aku kehilangan kesempatan untuk bahagia?
Malam itu, aku duduk di meja kecil di kamar, menulis di buku catatan.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Hatiku seperti terbelah dua. Di satu sisi, aku masih mencintainya, masih merindukan tawa di bawah hujan itu. Tapi di sisi lain, aku takut. Takut melukai orang lain, takut terluka lagi, takut percaya hanya untuk dikhianati kembali. Apakah cinta selalu serumit ini? Ataukah aku yang terlalu pengecut untuk mengambil risiko?"
Aku menutup buku, menatap jendela. Hujan turun lagi, lembut kali ini, seperti bisikan. Dan entah kenapa, meski hatiku masih penuh luka, aku bisa tersenyum tipis.
Karena mungkin, meski jalannya belum jelas, aku tahu satu hal: aku tidak sendirian dalam rasa ini.
Hujan Terakhir yang Kita Ingat
Seminggu setelah percakapan di taman, aku belum juga memberi kabar pada Arga.
Setiap malam, bayangannya masih datang. Senyumnya, suaranya, bahkan tatapan matanya yang penuh penyesalan. Aku tahu ia menunggu, tapi aku juga tahu, semakin lama aku menunda, semakin banyak hati yang terluka.
Di suatu pagi yang dingin, ponselku bergetar. Pesan singkat dari Arga muncul di layar.
"Aku akan pergi besok. Ke kota lain, untuk pekerjaan. Aku tidak tahu kapan kembali. Kalau kau ingin bertemu sekali lagi, aku akan menunggumu di stasiun sore ini. Jika tidak datang… aku akan anggap kau sudah memilih jalanmu."
Tanganku gemetar membaca pesan itu. Rasanya seperti dipaksa memilih dalam sekejap: kembali membuka hati, atau menutup pintu selamanya.
Sore itu, hujan turun deras, seolah langit mengerti betapa kacau isi hatiku. Aku berdiri di depan cermin, menatap bayanganku sendiri. Wajahku lelah, mataku sembab. Aku menarik napas panjang, lalu mengambil payung.
Aku tahu aku harus datang, setidaknya untuk mengucapkan sesuatu. Mengakhiri cerita dengan jelas, bukan dengan kabur atau diam.
Stasiun sore itu ramai, meski hujan deras membuat orang-orang berdesakan di bawah atap. Lampu-lampu berkilauan, kereta lewat dengan bunyi nyaring, dan aroma tanah basah bercampur dengan kopi instan dari kios kecil di pojok.
Dan di sana, aku melihatnya. Arga berdiri dengan jaket hitam, menatap ke arah pintu masuk seakan sudah lama menunggu. Saat matanya menemukan mataku, ada cahaya yang muncul cahaya lega sekaligus takut.
Aku melangkah perlahan, payung masih meneteskan sisa hujan di tanganku.
“Terima kasih kau datang,” katanya pelan.
Aku menunduk, mencoba merangkai kata. “Aku datang bukan untuk memberi jawaban yang kau harapkan. Aku datang… karena aku tidak ingin cerita ini berakhir dengan diam.”
Arga menatapku lama. “Aku mengerti. Lalu, apa yang kau putuskan?”
Aku menarik napas panjang. Hujan di luar atap stasiun terdengar seperti musik latar yang pilu.
“Arga, aku mencintaimu. Itu tidak pernah hilang, bahkan ketika aku mencoba melupakannya. Tapi cinta bukan hanya tentang perasaan. Ia juga tentang waktu, tentang pilihan, tentang keberanian. Dan kita… kita kehilangan semuanya.”
Air mata jatuh begitu saja, tapi suaraku tetap tegas. “Aku tidak ingin hidup dengan rasa bersalah. Aku tidak ingin menjadi alasan perempuan lain kehilangan kebahagiaannya. Jadi, meski hatiku sakit, aku memilih melepaskanmu.”
Arga menutup mata, menahan napas berat. Bahunya bergetar, dan aku tahu ia juga menahan tangis. “Aku yang salah. Aku yang terlambat. Dan aku akan menanggung semua akibatnya. Tapi terima kasih… terima kasih karena kau jujur.”
Kami berdiri berhadapan, di tengah keramaian yang seakan menghilang. Dunia hanya menyisakan kami berdua dan hujan di luar sana.
Arga tersenyum samar, senyum yang penuh luka. “Mungkin suatu hari nanti, kalau kita diberi kesempatan kedua, kita akan tertawa lagi di bawah hujan. Tapi kalau tidak… aku harap kau bahagia, meski bukan denganku.”
Aku terisak, lalu tersenyum tipis di balik air mata. “Dan aku harap kau pun menemukan kedamaianmu, Arga. Meski bukan di sisiku.”
Kereta datang dengan deru keras. Arga mengambil koper kecilnya, lalu menatapku sekali lagi. “Selamat tinggal.”
Aku mengangguk, meski rasanya hatiku hancur berkeping-keping. “Selamat jalan.”
Ia melangkah masuk ke kereta, dan aku berdiri terpaku. Saat pintu menutup, aku melihatnya melambaikan tangan. Aku membalas, meski kabur oleh air mata.
Kereta bergerak perlahan, lalu semakin cepat, meninggalkan stasiun, meninggalkan aku.
Aku berdiri lama di peron. Hujan masih turun di luar, deras, membasuh bumi seperti membasuh lukaku. Dan entah kenapa, di tengah perih yang menusuk, aku merasa lega.
Karena aku telah memilih. Karena aku telah berani melepaskan.
Aku menutup mata, mengingat tawa kami dulu di bawah hujan. Tawa yang kini hanya jadi kenangan.
Dan aku berbisik pada diriku sendiri:
"Tak apa. Meski kita tidak lagi bersama, hujan akan selalu jadi saksi bahwa kita pernah tertawa. Dan itu cukup."
Komentar
Posting Komentar