Cerpen Romantis: Surat yang Tak Pernah Terkirim (Karya Risti Windri Pabendan)

 


📖 Surat yang Tak Pernah Terkirim

✍️ Karya: Risti Windri Pabendan


Kata-kata yang Tersisa di Atas Kertas

Ada sesuatu yang ajaib tentang surat. Ia sederhana hanya kertas dan tinta namun mampu menampung ribuan rasa yang sulit diucapkan. Dan untukku, surat adalah tempat terakhir di mana aku menyembunyikan rindu.

Aku menulis surat itu bertahun-tahun lalu, dengan tangan gemetar, mata basah, dan hati yang penuh harapan. Surat yang kucetak dari isi dada, kusisipkan doa, lalu kusimpan dalam amplop berwarna cokelat muda.

Nama penerimanya jelas tertulis di sampul: Aruna.

Aruna adalah cahaya yang pernah singgah dalam hidupku. Senyum yang membuat siang terasa lebih hangat, dan tatapan mata yang sanggup meredakan segala resah. Kami pernah bersama tidak lama, tapi cukup untuk meninggalkan jejak yang sulit terhapus.

Namun, surat itu… tidak pernah kukirimkan.

Hari-hariku kini diisi dengan kesibukan biasa: pekerjaan yang monoton, perjalanan ke kantor dengan kereta yang penuh, dan malam-malam panjang di kamar kecilku. Tapi setiap kali aku membuka laci meja, melihat amplop tua itu masih tersimpan rapi, hatiku kembali terlempar ke masa lalu.

Ada satu tanya yang selalu berputar di kepalaku: Bagaimana jika dulu aku berani mengirimkan surat ini? Apakah hidupku akan berbeda?

Aku masih ingat jelas hari ketika menulisnya. Hujan turun deras, mengetuk jendela seperti irama tak sabar. Aku duduk sendirian di kamar kos waktu itu, lampu remang, kopi hitam mengepul. Kata-kata mengalir begitu saja, seakan pena tahu lebih banyak dari hatiku sendiri.

"Aruna, jika kau membaca surat ini, mungkin kau sudah tahu: aku mencintaimu lebih dari yang bisa kuucapkan. Aku takut kehilanganmu, takut jika diamku membuatmu pergi. Tapi aku juga takut, jika aku bicara, kau tidak lagi melihatku dengan cara yang sama…"

Aku berhenti di tengah kalimat, air mata jatuh membasahi tinta. Tapi aku terus menulis, seakan jika aku berhenti, seluruh perasaan akan membusuk di dalam dada.

Surat itu selesai tengah malam, lalu kusimpan dengan niat akan mengirimkannya esok hari. Tapi keesokan harinya, aku tak pernah punya keberanian.

Dan sejak hari itu, surat itu tetap tinggal bersamaku. Menjadi rahasia yang kian berat dari waktu ke waktu.

Beberapa tahun berlalu. Aruna pergi jauh, menikah dengan orang lain, membangun hidup yang tak lagi menyisakan tempat untukku. Sementara aku tetap di sini, ditemani pekerjaan dan sepi, serta selembar surat yang tidak pernah terkirim.

Kadang aku membayangkan: jika aku mati nanti, orang akan menemukan surat ini di laci meja. Mungkin mereka akan membacanya, mungkin tidak. Tapi satu hal pasti surat itu akan tetap menjadi saksi bisu bahwa aku pernah mencintai, meski cinta itu tak pernah sampai.

Dan malam ini, entah kenapa, aku kembali mengambil amplop itu. Mengusap permukaannya yang mulai kusam, membuka lipatannya perlahan, membaca lagi kata-kata yang dulu kutulis dengan air mata.

Hati ini masih bergetar sama seperti dulu.

"Aruna… kau mungkin tidak akan pernah membaca ini. Tapi jika suatu hari takdir mengizinkan, aku ingin kau tahu: aku pernah mencintaimu, sepenuh hati, sepenuh jiwa."

Aku menutup surat itu dengan tangan bergetar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bertanya pada diriku sendiri: Haruskah aku tetap menyimpannya? Atau akhirnya aku harus melepaskannya, agar aku bisa benar-benar bebas?

Pertemuan yang Membuka Luka

Hari itu seperti hari-hari biasa. Aku berangkat pagi-pagi, membawa tas kerja, berjalan cepat ke stasiun, menembus keramaian kota. Kereta datang dengan suara berderak, orang-orang berdesakan masuk, dan aku berdiri di sudut, berusaha melupakan sepi dengan menatap jendela yang buram oleh embun.

Tapi kemudian, di antara kerumunan itu, mataku menangkap sosok yang tak asing.

Aku terpaku. Nafasku tercekat.

Itu Aruna.

Ia berdiri tak jauh dariku, mengenakan gaun sederhana warna biru muda, rambut panjangnya tergerai, dan senyum kecil menghiasi bibirnya saat berbicara dengan seorang perempuan di sampingnya. Waktu seakan berhenti. Semua suara bising stasiun meredam, hanya detak jantungku yang terdengar keras.

Aruna.

Nama itu menggema di kepalaku, seakan mengusik semua pintu kenangan yang selama ini kututup rapat.

Aku ingin menyapanya. Ingin sekali. Tapi kakiku seperti dipaku ke lantai, lidahku kelu. Aku hanya bisa menatap, takut jika satu langkah maju akan membuat seluruh tubuhku runtuh.

Kereta bergerak, guncangannya membuat kami saling bergeser. Sekali waktu, pandangan matanya bertemu denganku. Dan saat itu, aku tahu ia mengenaliku.

“Raka?” suaranya lirih, tapi jelas.

Aku menelan ludah, mencoba tersenyum. “Aruna… sudah lama sekali.”

Ia tersenyum balik, senyum yang sama yang dulu membuat siang terasa lebih terang. Tapi ada garis-garis lelah di wajahnya, tanda perjalanan hidup yang tidak lagi sederhana.

“Ya, lama sekali,” jawabnya.

Kami berbincang singkat. Ia bercerita sedikit tentang pekerjaannya di sebuah yayasan sosial, tentang keluarganya, tentang anaknya yang sudah sekolah dasar. Aku hanya mendengarkan, berusaha menahan gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadaku.

Aku ingin bertanya banyak hal. Aku ingin mengatakan banyak hal. Tapi di balik semua itu, aku juga menyembunyikan satu rahasia: surat di laci meja, yang selama ini menahanku dari tenang.

Aruna masih sama seperti dulu. Hangat, sederhana, tapi juga tak terjangkau.

Kereta berhenti di sebuah stasiun. Ia menoleh padaku. “Aku harus turun di sini.”

Aku mengangguk, pura-pura tenang. “Baik. Senang bertemu denganmu lagi, Aruna.”

Senyumnya melekat di mataku saat ia melangkah turun, hilang ditelan keramaian.

Dan di detik itu, aku tahu: pertemuan singkat ini tidak akan berhenti begitu saja. Ia telah membuka pintu lama yang kukira sudah terkunci.

Malamnya, aku tidak bisa tidur. Surat itu kembali kuambil dari laci, kubuka, kubaca ulang.

"Aruna, jika kau membaca surat ini, mungkin kau sudah tahu: aku mencintaimu lebih dari yang bisa kuucapkan…"

Tanganku gemetar.

Pertemuan tadi membuat surat ini terasa hidup kembali. Dan di kepalaku, hanya ada satu pertanyaan: Apakah aku harus memberikannya sekarang, meski bertahun-tahun terlambat?

Hari-hari berikutnya aku gelisah. Setiap kali aku naik kereta, mataku mencari-cari, berharap bertemu Aruna lagi. Dan beberapa kali, harapan itu terkabul. Kami saling menyapa, kadang berbicara singkat, kadang hanya bertukar senyum.

Setiap kali itu terjadi, rasanya seperti luka lama yang disiram garam. Sakit, tapi sekaligus membangkitkan hidup.

Aku mulai menyadari: aku belum benar-benar melepaskannya.

Suatu sore, kami turun di stasiun yang sama. Hujan turun deras, dan kami berlari kecil mencari tempat berteduh.

“Masih sama ya,” katanya sambil tertawa kecil. “Hujan selalu datang di waktu yang tak terduga.”

Aku ikut tertawa, tapi hatiku perih. Karena aku tahu, hujan juga yang dulu menjadi saksi perasaan yang tak pernah kusampaikan.

Kami duduk di bangku panjang, menunggu hujan reda. Untuk sesaat, rasanya seperti kembali ke masa lalu.

Aku ingin berkata: Aruna, aku masih menyimpan surat untukmu. Surat yang tak pernah kukirim. Surat yang masih menunggu untuk sampai kepadamu.

Tapi bibirku terkunci.

Ketika hujan berhenti, ia berdiri, tersenyum padaku. “Senang bisa bertemu denganmu lagi, Raka. Semoga kita masih bisa bertemu lain waktu.”

Aku hanya mengangguk.

Dan di dalam hatiku, gejolak semakin kuat.

Surat itu… aku tidak bisa terus menyimpannya.

Malam itu aku menatap amplop cokelat itu lama sekali. Tanganku hampir memasukkannya ke tas, hampir membawanya besok untuk kuserahkan pada Aruna.

Tapi aku ragu.

Bagaimana jika surat ini hanya membuka luka lama? Bagaimana jika perasaanku yang tak pernah sampai justru menghancurkan ketenangan yang ia miliki sekarang?

Aku menutup mata, kepalaku pusing.

Aku tahu satu hal: pertemuan ini telah mengguncang seluruh dunia yang susah payah kubangun. Dan aku tidak tahu apakah aku siap menghadapi apa yang terjadi jika surat itu benar-benar sampai ke tangannya.

Surat yang Membara di Dada

Hari-hari berlalu, dan semakin sering aku bertemu dengan Aruna, semakin berat rasanya menahan semua yang kupendam.

Ada momen-momen kecil yang membuatku seakan kembali ke masa lalu. Saat ia tertawa menanggapi candaku, saat ia menepuk pundakku karena hal remeh, atau sekadar saat ia memanggil namaku dengan cara yang sama seperti dulu.

Setiap momen itu menyalakan bara dalam dadaku. Dan surat itu, yang tersimpan di laci, seperti bergetar, menuntut untuk sampai.

Suatu sore, aku memberanikan diri mengajaknya minum kopi di warung kecil dekat stasiun. Ia setuju, dan kami duduk di sudut warung, ditemani aroma kopi hitam dan suara hujan yang turun tipis di luar.

“Dulu kita sering begini, ya,” katanya sambil tersenyum, menatap gelas kopinya.

Aku ikut tersenyum. “Ya. Bedanya, dulu kita masih mahasiswa. Masih sibuk dengan tugas, bukan dengan pekerjaan dan anak.”

Ia tertawa kecil, tapi aku bisa melihat ada kesedihan samar di matanya.

“Aruna,” kataku perlahan, “bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Ia mengangguk.

“Apakah kamu… bahagia sekarang?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa bisa kutahan. Aruna terdiam, menunduk, mengaduk kopinya lama sekali sebelum menjawab.

“Aku… menjalani apa yang ada. Tidak selalu mudah, tapi ya, begitulah hidup.”

Jawaban itu samar, tapi cukup untuk membuat hatiku bergejolak. Ada ruang kosong di balik kalimatnya, seakan ia sendiri tidak yakin dengan kebahagiaannya.

Dan di saat itu, keinginanku untuk memberikan surat itu semakin membara.

Namun, aku juga sadar betapa tipis garis antara kejujuran dan ego. Jika aku memberikannya, mungkin aku hanya akan menambah beban dalam hidupnya.

Malam itu, aku kembali menatap surat di tanganku. Rasanya seperti benda itu berbisik, memanggil-manggil, memaksaku untuk segera menyerahkannya.

"Aruna harus tahu. Sekarang atau tidak sama sekali."

Aku memasukkan surat itu ke dalam tas kerja.

Keesokan harinya, aku naik kereta dengan hati berdebar. Surat itu ada di tasku, berat seperti batu, dan aku merasa seluruh tubuhku bergetar menunggu kesempatan.

Dan kesempatan itu datang. Aruna naik di stasiun berikutnya, melihatku, lalu duduk di sampingku.

“Pagi, Raka,” katanya dengan senyum hangat.

Aku mengangguk, mencoba bersikap biasa. Tapi di dalam tas, surat itu terasa semakin panas, seakan membakar punggungku.

Kami berbicara tentang hal-hal kecil: pekerjaan, cuaca, berita di televisi. Tapi sepanjang percakapan, pikiranku hanya berputar pada satu hal: Kapan aku harus memberikannya?

Aku hampir merogoh tasku ketika ia tiba-tiba berkata, “Oh ya, kamu harus main ke rumahku suatu kali. Anak-anak pasti senang bertemu denganmu. Mereka suka sekali dengar cerita masa muda.”

Aku tertegun. Kata-katanya seperti pisau yang menyayat. Rumah. Anak-anak. Dunia yang bukan milikku.

Tanganku mengendur, kembali menarik diri dari tas.

Aku tersenyum hambar. “Tentu, suatu kali.”

Kereta berhenti. Aruna berdiri, siap turun. Sebelum ia melangkah pergi, ia menoleh dan berkata, “Raka, aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Kamu membuat perjalanan pulang jadi tidak membosankan.”

Aku hanya bisa mengangguk, menelan semua kata yang ingin meledak keluar.

Surat itu tetap di tasku. Tak tersampaikan.

Hari-hari berikutnya menjadi siksaan. Aku terus membawa surat itu, berharap ada keberanian yang datang entah dari mana. Tapi setiap kali berhadapan dengannya, ada tembok yang tak bisa kutembus.

Lalu, suatu sore, aku melihat sesuatu yang membuatku semakin goyah.

Aku melihat Aruna berdiri di stasiun, berbicara lewat telepon. Wajahnya tegang, matanya berkaca-kaca. Aku tidak mendengar jelas, tapi aku tahu ia sedang bertengkar dengan seseorang mungkin suaminya.

“Ya, aku tahu… tapi aku juga lelah!” suaranya meninggi, lalu lirih.

Aku berdiri kaku, pura-pura tak melihat, tapi hatiku remuk. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di balik senyum sehari-harinya. Sesuatu yang rapuh.

Dan aku, dengan surat yang tak pernah terkirim ini, hanya semakin dilanda dilema.

Malam itu, aku memutuskan sesuatu.

Aku harus memberikannya. Apa pun risikonya.

Aku tak bisa lagi hidup dengan beban rahasia ini. Aku tak peduli jika surat ini datang terlambat, tak peduli jika jawabannya akan menyakitkan.

Lebih baik terlambat daripada selamanya terbungkam.

Aku menatap surat itu sekali lagi, merasakan setiap huruf yang kutulis bertahun-tahun lalu. Kata-kata itu masih hidup, masih berdetak.

Besok, aku akan memberikannya pada Aruna.

Apa pun yang terjadi.

Saat Surat Itu Berbicara

Hari itu, udara di stasiun terasa lebih pengap daripada biasanya. Kereta datang terlambat, orang-orang resah, dan hujan mengguyur kaca jendela dengan deras. Tapi bukan itu yang membuatku gelisah melainkan amplop cokelat di tasku, yang seperti mendesak dari dalam, berteriak minta dikeluarkan.

Hari itu aku sudah berjanji pada diriku: Surat ini harus sampai ke tangannya.

Kereta akhirnya datang. Aku masuk, menempati kursi dekat jendela. Tak lama kemudian, Aruna muncul, payungnya masih meneteskan sisa hujan. Ia melihatku, lalu tersenyum.

“Hari ini hujan deras sekali,” katanya sambil duduk di sampingku.

Aku mengangguk, mencoba menormalkan napasku. “Ya. Sepertinya hujan memang suka datang di saat-saat genting.”

Ia tertawa kecil, lalu membuka tasnya, mengeluarkan buku catatan. “Aku harus menulis laporan sebelum sampai kantor.”

Aku menatapnya, berdebat dengan diriku sendiri. Sekarang atau tidak sama sekali.

Tanganku gemetar saat merogoh tas. Amplop itu dingin di ujung jariku, tapi terasa membakar hati.

“Aruna,” suaraku hampir bergetar, “aku… ada sesuatu untukmu.”

Ia menoleh, matanya penuh tanda tanya. “Untukku?”

Aku mengangguk, lalu mengulurkan amplop itu. “Ini… sudah lama aku simpan. Aku ingin kamu membacanya.”

Aruna menerima amplop itu dengan ragu. Tangannya sedikit bergetar. Ia menatapku sejenak, lalu menunduk, membuka lipatan kertas di dalamnya.

Hening.

Suara roda kereta, hiruk pikuk penumpang, semua lenyap. Yang ada hanya detik-detik panjang saat Aruna membaca. Matanya bergerak perlahan mengikuti kata-kata yang dulu kutulis dengan penuh keberanian tapi juga ketakutan.

"Aruna, jika kau membaca surat ini, mungkin kau sudah tahu: aku mencintaimu lebih dari yang bisa kuucapkan. Aku ingin bersamamu, aku ingin berjalan di sisimu, apa pun yang terjadi…"

Aku melihat jemari Aruna mengepal. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca.

Ketika ia selesai, ia melipat surat itu dengan hati-hati, lalu menatapku dengan wajah yang sulit kuterka. Ada air mata, ada senyum, ada luka.

“Raka…” suaranya lirih, “mengapa baru sekarang?”

Aku terdiam. Kata-kata macet di tenggorokan.

“Waktu itu… aku takut,” jawabku akhirnya. “Aku tidak berani menghancurkan apa yang sudah ada. Aku memilih diam, berharap waktu akan menghapus perasaan itu. Tapi ternyata tidak. Surat itu tetap hidup di dalamku. Sampai sekarang.”

Aruna menutup matanya sejenak, menahan air mata. “Kalau saja aku menerima surat ini dulu… mungkin hidupku akan berbeda.”

Kata-kata itu menusukku dalam. Ada penyesalan dalam suaranya, tapi juga ketegasan.

“Sekarang bagaimana?” tanyaku pelan.

Ia menarik napas panjang, menatap keluar jendela yang basah oleh hujan. “Aku sudah punya keluarga, Raka. Anak-anak menungguku di rumah. Ada tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan.”

Hatiku remuk. Aku tahu jawabannya, tapi mendengarnya langsung seperti ditikam.

Namun, ia melanjutkan dengan suara bergetar, “Tapi jujur saja, membaca suratmu… membuatku mengingat betapa dalamnya perasaan yang dulu kita simpan. Aku tidak pernah benar-benar lupa, Raka. Tidak pernah.”

Aku ingin menangis, ingin berteriak.

“Aruna… aku tidak ingin merebutmu dari hidupmu sekarang. Aku hanya ingin kau tahu. Itu saja.”

Ia menoleh, matanya basah. “Dan aku sudah tahu. Tapi pengetahuan ini… membuatku semakin bingung. Karena ada bagian dari diriku yang masih ingin percaya pada apa yang kita miliki dulu.”

Kereta berhenti di stasiun. Orang-orang keluar masuk, tapi kami tetap duduk, terjebak dalam ruang yang hanya milik kami berdua.

Aku merasa dunia runtuh dan tumbuh kembali dalam satu waktu.

“Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu, Raka,” katanya akhirnya. “Tapi aku berterima kasih karena kamu jujur. Mungkin memang sudah seharusnya aku membaca surat ini, meski terlambat.”

Aku mengangguk, pasrah.

“Bolehkah aku menyimpannya?” tanyanya, mengangkat amplop itu.

“Ya,” jawabku tanpa ragu. “Itu milikmu sejak awal.”

Kami terdiam lama sekali, hanya mendengar suara roda kereta. Hujan di luar mulai reda, tapi badai di dalam dada kami baru saja dimulai.

Aku tahu, menyerahkan surat itu bukanlah akhir. Justru awal dari luka baru yang harus kutanggung.

Tapi anehnya, ada kelegaan juga. Beban bertahun-tahun itu akhirnya terlepas.

Ketika kereta sampai di stasiun tujuannya, Aruna berdiri. Sebelum pergi, ia menatapku sekali lagi.

“Mungkin kita tidak bisa kembali ke masa lalu, Raka. Tapi setidaknya sekarang aku tahu betapa tulusnya hatimu.”

Aku hanya bisa menatapnya pergi, membawa surat itu dalam genggamannya.

Dan aku tahu: apa pun yang terjadi setelah ini, hidupku tidak akan pernah sama lagi.

Rindu yang Tak Pernah Usai

Sejak hari itu, dunia terasa berubah. Bukan karena langit tiba-tiba lebih cerah atau karena hidupku mendadak mudah, melainkan karena beban yang lama kusimpan akhirnya lepas. Surat itu kini ada di tangan Aruna bukan lagi terkurung di laci meja atau di dalam hatiku.

Tapi kelegaan itu tidak datang tanpa luka. Justru setelah surat itu berpindah, rasa kehilangan semakin nyata.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri: apakah aku melakukan hal yang benar? Apakah seharusnya surat itu tetap tersembunyi, biar hanya aku yang tahu?

Tapi setiap kali aku ragu, aku mengingat tatapan Aruna saat membacanya. Tatapan penuh air mata, tapi juga kejujuran. Dan aku tahu, meski terlambat, setidaknya ia tahu kebenaran yang kupendam selama ini.

Hari-hari setelah itu berjalan biasa di permukaan, tapi hatiku selalu resah.

Kami masih sesekali bertemu di kereta, tapi ada jarak baru di antara kami. Ia tetap menyapaku, tetap tersenyum, tapi ada keraguan di matanya. Seakan ia sedang menata ulang hatinya, memutuskan apa yang boleh ia simpan dan apa yang harus ia lepaskan.

Aku pun begitu. Ada dorongan kuat untuk lebih dekat, tapi juga kesadaran bahwa ia punya dunia sendiri yang tidak bisa kuganggu.

Suatu sore, aku memberanikan diri bertanya, “Apakah kamu menyesal sudah membaca surat itu?”

Aruna terdiam lama, lalu berkata, “Tidak. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa aku punya keluarga. Aku tidak ingin anak-anakku kehilangan ibunya hanya karena aku terjebak masa lalu.”

Kata-katanya sederhana, tapi menohok.

Aku mengangguk, mencoba tersenyum. “Aku mengerti. Aku tidak akan memintamu memilih sesuatu yang mustahil. Aku hanya ingin kau tahu apa yang kurasakan.”

Aruna menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Dan aku akan selalu mengingatnya. Tapi mungkin memang begini jalan kita, Raka.”

Setelah percakapan itu, aku tahu: kami tidak akan pernah benar-benar bersama.

Tapi entah bagaimana, aku juga merasa damai. Karena meski tidak bisa memegang tangannya selamanya, setidaknya aku pernah memiliki momen di mana ia tahu isi hatiku.

Itu lebih baik daripada membiarkan surat itu membusuk dalam diam.

Malam-malamku masih ditemani kenangan. Aku masih mengingat saat-saat kami tertawa kecil di warung kopi, berbagi payung di bawah hujan, atau sekadar duduk berdampingan di kereta. Semua itu sederhana, tapi bermakna.

Kadang aku merasa bodoh mengapa cinta sebesar itu hanya berakhir pada surat yang datang terlambat?

Tapi mungkin begitulah hidup. Tidak semua cinta harus dimiliki. Tidak semua rindu harus terjawab. Ada cinta yang hadir hanya untuk mengajarkan arti ketulusan, lalu pergi tanpa pernah benar-benar hilang.

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat pesan singkat darinya:

"Terima kasih untuk surat itu, Raka. Aku sudah menyimpannya. Mungkin suatu hari nanti, aku akan membacanya lagi, ketika aku butuh mengingat bahwa aku pernah dicintai dengan begitu tulus."

Air mataku jatuh membaca pesan itu. Ada rasa bahagia, ada luka, tapi juga ada kepastian.

Aku tahu, aku harus belajar melepaskan.

Waktu terus berjalan. Aruna dan aku tetap berada di jalur hidup masing-masing. Sesekali kami bertemu, sekadar bertukar senyum atau kata singkat. Tidak ada lagi pembicaraan panjang, tidak ada lagi janji.

Tapi setiap kali kereta berhenti di peron yang sama, setiap kali hujan turun, aku selalu mengingatnya. Dan selalu ada rasa hangat sekaligus perih yang menyelinap dalam dadaku.

Kini, bertahun-tahun setelah surat itu berpindah tangan, aku duduk di meja kerjaku, menatap jendela yang basah oleh hujan.

Aku tidak lagi menyimpan surat di laci. Yang kutinggalkan hanyalah ruang kosong, tanda bahwa aku pernah punya rahasia yang akhirnya kuberikan pada orang yang seharusnya tahu.

Dan meski hidup kami tak pernah benar-benar bersatu, aku tahu, surat itu telah menyatukan kami dalam cara yang berbeda: sebagai kenangan yang akan kami bawa sampai akhir.

Aruna mungkin tidak pernah benar-benar jadi milikku. Tapi ia adalah bagian dari kisahku yang paling indah. Dan aku, dengan semua luka dan rindu, memilih untuk menyimpannya bukan sebagai penyesalan melainkan sebagai bukti bahwa aku pernah mencintai dengan tulus, meski tidak pernah terkirim tepat waktu.

Karena pada akhirnya, beberapa surat memang ditakdirkan untuk terlambat.

Tapi itu tidak membuatnya kurang berarti.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)

Cerpen 6: Sepotong Roti di Meja Tua