Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)
📖 Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah
✍️ Karya: Risti Windri Pabendan
Kotak yang Terkunci
Sejak kecil, aku sering melihat kotak kayu tua itu di kamar ayah. Kotaknya sederhana, berwarna cokelat gelap, dengan ukiran halus berbentuk bunga teratai di permukaannya. Ukirannya indah, meski sudah dimakan usia dan terlihat pudar.
Kotak itu selalu berada di atas lemari, di sudut yang jarang tersentuh. Ayah tidak pernah membuka, tidak pernah menyinggung, dan tidak pernah mengizinkan siapapun mendekat. Bahkan Ibu pun, setahuku, tidak tahu apa isi di dalamnya.
Pernah suatu kali, saat aku berusia sepuluh tahun, aku memberanikan diri bertanya.
“Ayah, di dalam kotak itu ada apa?”
Ayah menoleh, tatapannya tajam tapi sekaligus penuh rahasia. “Itu bukan untukmu sekarang. Suatu hari nanti, kau akan tahu. Tapi jangan pernah membukanya sebelum waktunya.”
Jawaban itu melekat di kepalaku hingga dewasa.
Kini, aku sudah berumur dua puluh lima tahun. Ayah telah tiada sejak setahun lalu, meninggalkan rumah tua dan kenangan yang sulit kulupakan. Ibu sudah pindah ke rumah kakak perempuanku di kota lain, sementara aku memilih tinggal di rumah peninggalan ayah, menjaga sekaligus mencari kedamaian.
Dan di sanalah aku kembali melihat kotak itu, masih di tempat yang sama. Kotak kayu tua dengan kunci kecil yang menggantung di sisinya.
Selama setahun terakhir, aku tidak berani menyentuhnya. Ada rasa takut, rasa hormat, dan entah kenapa, juga rasa bersalah. Tapi malam ini, ketika hujan deras turun dan listrik sempat padam, aku merasa dorongan yang berbeda. Seolah ada suara di dalam kepalaku yang berkata: “Sudah waktunya.”
Dengan tangan bergetar, aku menurunkan kotak itu dari lemari. Beratnya lebih dari yang kubayangkan, seakan bukan hanya kayu yang mengisi, tapi juga beban cerita yang tertahan bertahun-tahun.
Aku duduk di lantai kamar ayah, menatap kunci kecil yang berkarat. Napasku tak beraturan.
“Ayah,” bisikku. “Maafkan aku. Tapi aku harus tahu.”
Kunci berputar dengan suara berderit pelan. Aku membuka tutupnya, dan aroma kayu tua bercampur debu langsung menyergap.
Di dalam kotak itu, ada beberapa benda:
-
Sebuah tumpukan surat yang terikat pita biru.
-
Foto seorang perempuan muda yang tidak kukenal.
-
Sebuah jam saku perak yang sudah usang.
-
Dan sebuah buku kecil berkulit hitam, seperti jurnal.
Aku menelan ludah. Jantungku berdetak keras.
Siapa perempuan dalam foto itu? Apa isi surat-surat itu? Dan kenapa ayah menyimpannya diam-diam, jauh dari semua orang?
Aku mengambil satu surat, membuka lipatannya dengan hati-hati. Tulisan tangan rapi, indah, tapi bukan tulisan Ibu.
"Untuk Raka, lelaki yang selalu kusebut dalam doa…"
Aku tercekat. Nama ayahku adalah Raka.
Tanganku gemetar, air mataku menetes tanpa kusadari.
Apa yang sebenarnya disembunyikan ayah?
Malam itu, aku duduk sendirian di kamar, dengan kotak kayu terbuka di hadapanku. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa mungkin aku tidak pernah benar-benar mengenal ayahku.
Surat yang Tidak Pernah Sampai
Aku membuka surat itu perlahan, seolah takut huruf-hurufnya akan pudar jika disentuh terlalu keras. Kertasnya sudah menguning, namun tulisan tinta hitam masih jelas terbaca.
"Untuk Raka, lelaki yang selalu kusebut dalam doa.
Bagaimana kabarmu di kota? Aku merindukan tawa kita di tepi sungai. Aku tahu, kita memilih jalan masing-masing, tapi rinduku tidak pernah habis.
Jika suatu hari kau membaca ini, ketahuilah bahwa aku selalu mencintaimu, bahkan dalam diam."
Aku menutup surat itu dengan tangan gemetar. Kata-kata itu menusuk hatiku. Siapa perempuan ini? Apa hubungannya dengan ayah?
Aku meraih surat berikutnya. Sama, ditulis dengan tulisan tangan yang sama indahnya.
"Raka, aku ingin mengirimmu surat ini, tapi aku takut. Aku takut merusak kebahagiaanmu dengan keluargamu. Jadi aku hanya menyimpannya. Tapi aku ingin kau tahu, ada bagian dari hatiku yang tidak pernah bisa kuhilangkan darimu."
Mataku berkaca-kaca. Jadi, ayah… pernah dicintai oleh seseorang selain Ibu? Atau lebih buruk lagi, apakah ayah juga pernah mencintai perempuan ini?
Aku terus membuka satu per satu surat, dan semakin banyak kubaca, semakin jelas bahwa perempuan ini bukan orang sembarangan. Dalam setiap kalimat, aku bisa merasakan betapa dalam perasaan yang ia pendam. Surat-surat itu seperti doa yang tak pernah tersampaikan, ditulis untuk dilepaskan, bukan untuk dikirim.
Aku berhenti pada sebuah surat yang berbeda. Isinya lebih panjang, lebih emosional.
"Raka, aku menyesal. Andai aku lebih berani dulu, mungkin ceritanya berbeda. Tapi sekarang, aku hanya bisa menulis. Kau memilih jalanmu, aku memilih jalanku. Namun takdir begitu kejam, karena hatiku tetap tinggal di sisimu."
Aku menutup wajah dengan tangan. Dadaku sesak.
Pandanganku jatuh pada foto perempuan itu. Rambut panjang tergerai, mata lembut, senyum samar. Ada kehangatan dalam wajahnya, tapi juga kesedihan yang tersembunyi. Ia terlihat seumuran dengan ayah saat muda.
Aku mengangkat foto itu lebih dekat. “Siapa kau sebenarnya?” bisikku.
Di balik foto, ada tulisan kecil: “Untuk Raka, dari Lestari.”
Namanya Lestari. Aku mencoba mengingat-ingat, tapi sepanjang hidupku aku tidak pernah mendengar nama itu disebut dalam keluarga. Tidak dari ayah, tidak dari ibu, tidak dari siapapun.
Dengan tangan bergetar, aku membuka buku kecil berkulit hitam yang ada di dalam kotak. Ternyata itu jurnal ayah. Tulisan tangannya kukenal dengan jelas.
Halaman pertama membuatku terhenyak.
"Hari ini aku bertemu Lestari di pasar. Senyumnya masih sama seperti dulu. Aku tahu aku tidak boleh terlalu dekat, aku sudah punya keluarga. Tapi hatiku bergetar, seperti aku kembali jadi pemuda dua puluh tahun lalu."
Aku terdiam, jantungku berdebar kencang. Jadi benar, ayah menyimpan sesuatu di dalam hatinya—sesuatu yang tidak pernah ia bagikan pada siapapun.
Aku membuka halaman lain.
"Aku menyesal. Aku mencintai istriku, tapi aku juga tidak bisa menghapus Lestari dari hatiku. Aku benci diriku sendiri karena merasa seperti mengkhianati. Tapi aku hanya manusia, dan rasa ini terlalu kuat untuk kuabaikan."
Air mataku menetes membasahi halaman.
Ayah… lelaki yang selama ini kuanggap teguh, ternyata menyimpan pergulatan yang begitu dalam. Lelaki yang kupandang sebagai panutan, ternyata juga rapuh, juga terjebak dalam cinta yang rumit.
Malam semakin larut, hujan masih deras di luar. Aku duduk di kamar ayah dengan surat-surat, foto, dan jurnal berserakan di lantai. Perasaan bercampur aduk: marah, sedih, bingung, sekaligus iba.
Aku merasa berkhianat pada Ibu hanya dengan membaca ini semua. Tapi di sisi lain, aku merasa ayah meninggalkan pesan. Seolah ia ingin aku tahu sisi dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan.
Aku menutup kotak itu, lalu berbaring di kasur. Mataku menatap langit-langit yang gelap.
"Apa yang harus kulakukan dengan semua ini?" pikirku.
Haruskah aku menyimpannya, menjadikannya rahasia yang kubawa seorang diri? Atau haruskah aku memberitahu Ibu? Tapi apa gunanya? Bukankah itu hanya akan melukai hati yang sudah renta?
Dadaku sesak. Aku memejamkan mata, berharap tidur bisa meredakan kegelisahan. Tapi justru wajah Lestari dan ayah terus hadir dalam mimpiku.
Keesokan harinya, aku memutuskan pergi ke perpustakaan kecil di kota, mencari arsip lama. Aku ingin tahu siapa sebenarnya Lestari.
Pencarian itu membawaku pada sesuatu yang tak kuduga: sebuah berita lama di koran tahun 90-an.
“Lestari, gadis desa yang dikenal ramah dan pandai menari, meninggal mendadak dalam sebuah kecelakaan bus menuju kota.”
Aku membeku membaca berita itu.
Jadi, perempuan itu sudah lama tiada. Tapi kenapa ayah masih menyimpan surat-suratnya? Kenapa ayah masih menulis tentangnya dalam jurnal, bertahun-tahun setelahnya?
Air mataku jatuh lagi. Kini aku mengerti: ayah tidak hanya menyimpan rahasia. Ayah menyimpan duka, cinta yang tak pernah selesai, luka yang dibawanya sampai akhir hayat.
Rahasia yang Menjadi Beban
Hari-hari setelah penemuan itu terasa aneh. Aku tetap menjalani rutinitas: bangun pagi, menyapu halaman rumah, menjerang kopi, menulis laporan kerja yang kubawa pulang. Tapi di antara semua itu, pikiranku selalu kembali ke kotak kayu, surat-surat, dan jurnal ayah.
Setiap kali hujan turun, aku teringat Lestari. Setiap kali angin sore berembus, aku membayangkan ayah duduk di teras, menatap jauh, mungkin mengingat perempuan yang tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya.
Aku merasa rumah ini penuh bisikan. Seakan dinding-dindingnya tahu rahasia itu, seakan udara menyimpan jejak rindu ayah yang tak pernah terucap.
Suatu sore, Ibu datang menjenguk. Ia membawa kue cucur kesukaanku. Senyumnya masih hangat seperti biasa, meski rambutnya semakin memutih. Kami duduk di ruang tamu, bercakap ringan tentang tetangga, tentang cucu-cucunya, tentang tanaman bunga yang ia rawat di rumah kakak.
Tapi mataku terus melirik kamar ayah. Rasanya seperti ada tembok tak terlihat antara aku dan Ibu.
“Aku merasa kau murung akhir-akhir ini,” kata Ibu pelan. “Ada apa, Nak?”
Pertanyaan itu membuatku tercekat. Rasanya lidahku gatal ingin berkata: Aku menemukan rahasia ayah. Aku tahu ada perempuan lain di hatinya. Tapi aku menahan.
“Tidak, Bu. Aku hanya lelah kerja.” Jawabanku terdengar hambar.
Ibu menatapku lama, seakan mencoba membaca hatiku. Tapi akhirnya ia hanya mengangguk.
Malam itu, setelah Ibu pulang, aku duduk di depan kotak kayu lagi. Surat-surat itu seakan memanggil. Aku membaca ulang salah satunya.
"Raka, aku tidak tahu apakah aku masih punya tempat di hatimu. Tapi aku ingin kau tahu, aku selalu mendoakanmu, juga keluargamu. Semoga kau bahagia."
Air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Betapa ironisnya. Perempuan ini mencintai ayah, tapi tetap mendoakan kebahagiaan keluarganya. Bukankah itu artinya aku dan Ibu juga bagian dari doanya?
Aku menutup surat itu. Hati semakin kacau.
Keesokan harinya, aku bertemu kakakku, Rani, yang datang menengok rumah peninggalan. Ia ceria seperti biasa, bercerita tentang anak-anaknya yang mulai sekolah.
“Kau tahu, aku sering rindu ayah,” katanya tiba-tiba. “Kadang aku merasa ada banyak hal tentangnya yang tidak kita tahu.”
Aku terkejut. “Maksudmu?”
“Entahlah. Ayah orangnya pendiam. Jarang bercerita tentang masa mudanya. Pernah kan kau merasa, kita hanya mengenal ayah dari sisi seorang bapak, tapi tidak pernah mengenal dia sebagai manusia biasa?”
Kata-kata itu menghantamku. Aku ingin sekali menjawab Ya, aku tahu. Aku menemukan sisi itu. Tapi lagi-lagi, aku diam.
Malamnya aku gelisah. Suara hujan kembali turun, deras, mengetuk genting rumah seperti ketukan hati yang resah. Aku duduk di kamar ayah, memandangi kotak kayu itu.
“Ayah, apa yang harus kulakukan dengan rahasiamu ini?” bisikku.
Di satu sisi, aku merasa rahasia ini harus kubagikan pada Ibu. Ia berhak tahu siapa lelaki yang ia cintai seumur hidup. Tapi di sisi lain, bukankah itu hanya akan melukai? Ibu sudah tua, tubuhnya rapuh, hatinya lebih rapuh lagi. Untuk apa membuka luka lama yang mungkin tidak pernah ia ketahui?
Aku merasa seperti penjaga rahasia yang tidak pernah kupilih. Rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian, tapi juga terlalu berbahaya untuk dibagikan.
Beberapa hari kemudian, aku bermimpi tentang ayah. Dalam mimpi itu, ia duduk di teras rumah, memandang hujan. Aku mendekat, tapi ia tidak menoleh. Ia hanya berkata:
“Jangan sakiti ibumu. Itu tugasku dulu, dan tugasmu sekarang adalah melindunginya dari rasa sakit.”
Aku terbangun dengan air mata membasahi bantal.
Sejak saat itu, aku semakin yakin bahwa rahasia ini memang harus kupikul sendiri. Tapi semakin aku menyimpannya, semakin berat rasanya di dada.
Aku mulai jarang tidur nyenyak. Mulai malas makan. Dan mulai menghindari tatapan mata Ibu setiap kali ia datang. Aku takut ketahuan. Takut ia membaca kegelisahan di wajahku.
Suatu sore, saat aku termenung di teras, tetanggaku yang sudah tua menghampiri. Pak Sarman, teman lama ayah.
“Kau mirip sekali dengan ayahmu,” katanya sambil tersenyum. “Tegas, tapi menyimpan banyak hal di hati.”
Aku terkejut. “Maksudnya?”
Pak Sarman menepuk bahuku. “Ayahmu orang baik. Tapi semua orang punya rahasia, Nak. Kadang rahasia itu bukan untuk dibuka, melainkan untuk dipeluk.”
Aku terdiam lama setelah ia pergi. Kata-katanya seperti kunci lain untuk memahami ayah.
Namun, semakin hari, aku semakin sadar: rahasia ini bukan sekadar tentang ayah dan Lestari. Ini juga tentang diriku. Tentang bagaimana aku harus belajar menerima bahwa orangtuaku bukanlah sosok sempurna, melainkan manusia biasa yang juga bisa rapuh, juga bisa mencinta, juga bisa salah.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku menangis bukan karena marah pada ayah, tapi karena mengerti betapa berat hidup yang ia jalani, menanggung cinta yang tak bisa ia miliki.
Menemukan Jalan di Antara Rahasia
Beberapa minggu berlalu sejak malam penuh air mata itu. Hujan masih sering turun, seperti musik latar yang tidak pernah berhenti mengiringi hidupku di rumah tua ini. Namun, aku mulai merasakan perubahan dalam diriku.
Awalnya aku merasa rahasia itu seperti duri yang menancap, menyakitkan setiap kali kuingat. Tapi lambat laun, aku mulai memandangnya berbeda. Rahasia itu bukan hanya luka, melainkan juga bagian dari perjalanan hidup ayah.
Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya mencintai seseorang tapi tidak bisa bersatu dengannya. Bagaimana rasanya menyimpan rindu bertahun-tahun, hanya bisa menuliskannya dalam surat, lalu menyembunyikannya dalam kotak kayu.
Mungkin ayah tidak pernah ingin aku tahu. Tapi kini, setelah aku mengetahuinya, aku merasa memiliki tugas untuk menghargainya.
Suatu sore, aku membuka kembali jurnal hitam milik ayah. Halamannya sudah menguning, tulisan tangannya sedikit bergetar, tanda ia menulisnya di usia senja.
"Aku mencintainya dengan cara yang salah, tapi tulus. Dan karena itu, aku memilih tidak pernah meninggalkan keluargaku. Jika suatu hari anakku membaca ini, ketahuilah: cintaku padamu dan ibumu tidak pernah kurang. Aku hanya manusia, dengan hati yang pernah tersesat."
Aku menutup buku itu, dadaku sesak tapi hangat. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar memahami ayah. Ia tidak sempurna, tapi siapa di dunia ini yang sempurna?
Malamnya aku duduk di ruang tamu, menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto lama, diambil saat aku SMP. Ayah berdiri tegak, Ibu tersenyum lembut, aku dan Rani berdiri di samping mereka.
“Ayah,” bisikku, “aku tidak marah lagi.”
Beberapa hari kemudian, aku menemui Ibu. Aku membawakan kotak kayu itu, tapi bukan untuk membukanya di hadapannya. Hanya untuk menanyakan sesuatu.
“Bu,” kataku, “apakah Ayah pernah bercerita tentang masa mudanya? Tentang orang-orang yang pernah ia temui?”
Ibu menatapku heran. “Tidak banyak. Ayahmu pendiam. Kalau pun ada cerita, hanya seputar pekerjaannya atau keluarganya.”
Aku mengangguk pelan. Lalu kuberanikan diri bertanya: “Kalau seandainya… Ayah pernah menyimpan sesuatu dari Ibu, apakah Ibu akan marah?”
Ibu tersenyum samar. “Nak, setiap manusia punya ruang rahasia di hatinya. Bukan berarti ia tidak mencintai kita. Selama ia tetap ada di sini, bersama keluarga, itu sudah cukup bagiku.”
Jawaban itu membuat mataku panas. Ibu jauh lebih bijak dari yang kubayangkan.
Malam itu aku menyalakan lilin kecil di kamar ayah. Aku duduk di lantai, membuka kotak kayu sekali lagi. Kali ini, aku tidak membaca suratnya dengan resah, tapi dengan tenang.
Aku membayangkan ayah dan Lestari duduk di sebuah stasiun kereta, hujan turun di luar, mereka bicara sebentar lalu berpisah selamanya. Aku membayangkan ayah kembali ke rumah, menatap Ibu, menatap anak-anaknya, dan memilih diam.
Mungkin itu yang terbaik yang bisa ia lakukan.
Aku menutup kembali surat-surat itu, lalu mengikatnya dengan pita biru yang sama. Setelah itu, aku menyimpan kotak di lemari, tapi tidak lagi dengan rasa takut. Kini kotak itu bukan lagi beban, melainkan warisan. Warisan yang tidak harus diketahui semua orang, tapi cukup aku jaga.
Beberapa hari kemudian, aku mengunjungi makam ayah. Rumput liar tumbuh di sekitarnya, tapi nisan tetap kokoh berdiri. Aku duduk di sana, berbicara seakan ayah mendengarkan.
“Ayah, aku sudah membaca semuanya. Aku tahu tentang Lestari. Tapi aku juga tahu bahwa cintamu pada kami tidak pernah pudar. Aku tidak akan menceritakannya pada Ibu, karena aku ingin ia tetap bahagia. Biarlah rahasia ini tetap di antara kita.”
Hujan turun perlahan, seolah mengamini kata-kataku. Aku tersenyum di tengah air mata.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan kotak itu, aku merasa damai.
Malam itu, aku bermimpi lagi tentang ayah. Kali ini, ia menatapku sambil tersenyum. Tidak ada kata-kata, hanya senyum yang menenangkan. Dan aku tahu, ia lega.
Warisan yang Tak Tertulis
Waktu berjalan pelan, seperti air hujan yang menetes dari ujung genting ke tanah halaman. Sejak malam aku berdamai dengan kotak kayu itu, ada ketenangan baru yang muncul di hatiku.
Rumah ini tidak lagi terasa sesak oleh rahasia. Justru sebaliknya, dinding-dindingnya seperti ikut bernapas lega. Seakan ayah dengan segala beban yang ia simpan akhirnya mewariskan sesuatu yang lebih besar daripada misteri: pengertian.
Aku mulai menjalani hari-hariku seperti biasa, tapi dengan pandangan berbeda. Pagi-pagi, aku menyapu halaman, menatap langit biru yang cerah setelah hujan semalam. Burung-burung kecil hinggap di kabel listrik, berkicau riang.
Aku teringat lagi pada surat-surat Lestari. Ada cinta yang begitu besar di sana, tapi cinta itu tidak dimiliki, tidak diperjuangkan sampai melukai. Justru sebaliknya: ia rela mundur demi kebahagiaan orang lain.
Dari situ aku belajar bahwa cinta bukan hanya soal memiliki. Kadang cinta adalah melepaskan dengan doa, meski hatimu ikut hancur.
Aku pun mulai melihat ayah dalam cahaya baru. Ia bukan lagi sosok yang kuanggap menyimpan luka gelap. Ia adalah manusia yang berusaha sebaik mungkin menjaga dua hal yang ia cintai: keluarganya dan seseorang dari masa lalunya.
Mungkin caranya tidak sempurna, mungkin pilihannya melahirkan pertanyaan, tapi bukankah hidup selalu begitu? Kita semua hanya manusia yang berjuang sebisa-bisanya di tengah badai rasa dan waktu.
Suatu sore, aku mengajak Ibu duduk di teras. Hujan baru saja reda, aroma tanah basah memenuhi udara. Aku menatapnya, lalu berkata:
“Bu, terima kasih sudah selalu sabar dengan Ayah. Aku sadar, kita beruntung punya beliau.”
Ibu menoleh, matanya berkaca-kaca. “Ayahmu orang baik, Nak. Jangan pernah ragukan itu.”
Aku menggenggam tangannya. “Aku tidak akan meragukannya lagi, Bu.”
Malam itu, aku menyalakan lampu kecil di kamar ayah. Kotak kayu itu masih di lemari, terkunci kembali dengan rapi. Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan membukanya lagi, atau membiarkannya tetap terkunci selamanya.
Tapi aku tahu satu hal: aku tidak lagi membencinya. Kotak itu bukan beban, melainkan pengingat. Pengingat bahwa setiap orang punya kisah yang tidak kita ketahui, dan bukan tugas kita untuk menghakimi, melainkan memahami.
Beberapa bulan kemudian, aku menulis sebuah cerita. Tentang seorang ayah, sebuah kotak, dan rahasia yang akhirnya mengajarkan anaknya tentang cinta. Cerita itu kubagikan di sebuah majalah kecil, tanpa menyebut nama.
Dan ketika aku membaca ulang tulisanku, aku tersenyum. Karena sebenarnya, kisah itu bukan hanya tentang ayahku. Itu tentang semua orang yang pernah mencintai dalam diam, yang pernah memilih diam demi orang lain, yang pernah menyimpan rindu di balik doa.
Hari ini, aku kembali ke makam ayah. Aku membawa bunga melati, kembang kesukaan Ibu. Aku duduk di tanah yang masih basah oleh gerimis pagi.
“Ayah,” kataku, “aku sudah belajar dari rahasiamu. Kau mengajarkanku bahwa cinta itu luas, tidak hanya tentang bahagia bersama, tapi juga tentang berani berkorban. Terima kasih untuk pelajaran itu.”
Angin berembus lembut, membuat dedaunan di sekitar bergetar. Aku merasa seperti ayah menjawab, meski tanpa kata-kata.
Dalam perjalanan pulang, aku sadar sesuatu: warisan terbesar dari seorang ayah tidak selalu berbentuk rumah, harta, atau benda. Kadang warisan itu berupa cerita, pelajaran, bahkan rahasia. Sesuatu yang tidak tertulis, tapi tetap hidup di dalam hati orang-orang yang ditinggalkan.
Dan aku… aku akan menjaga warisan itu, bukan dengan menyebarkannya, tapi dengan memahaminya.
Di bawah langit senja, aku berjalan pulang ke rumah tua itu. Kotak kayu masih ada di lemari, sunyi dan sederhana. Tapi kini, setiap kali aku menatapnya, aku tidak lagi merasa takut atau sedih. Aku merasa dekat dengan ayah.
Seakan ia berbisik dari kejauhan:
"Terima kasih sudah mengerti. Aku hanya manusia, tapi cintaku padamu tidak pernah berubah."
Aku tersenyum, menatap langit yang mulai berwarna jingga. Hujan mungkin akan turun lagi besok, tapi aku tahu, setelah hujan selalu ada kelegaan.
Dan di dalam hatiku, tawa ayah masih bergema. Bukan sebagai rahasia, tapi sebagai kenangan.
Komentar
Posting Komentar