Sepotong Senja di Beranda Rumah Tua
📖 Sepotong Senja di Beranda Rumah Tua
✍️ Karya: Risti Windri Pabendan
Beranda yang Menyimpan Waktu
Beranda rumah tua itu selalu menyimpan aroma senja. Catnya yang mulai terkelupas, papan kayu yang berderit setiap kali dipijak, dan kursi goyang yang masih setia berdiri meski sudah rapuh dimakan usia—semua seolah menjadi saksi bisu perjalanan panjang kehidupan.
Di situlah aku duduk sore itu, menatap langit yang perlahan berubah warna. Jingga berbaur dengan ungu, seperti lukisan yang dibuat tanpa garis tegas, hanya goresan samar yang memeluk matahari sebelum tenggelam.
Entah sudah berapa lama aku tidak kembali ke rumah ini. Setiap papan kayu, setiap retakan dinding, seakan memanggil kenangan yang pernah kutinggalkan. Ada bayangan wajah yang muncul setiap kali aku memejamkan mata—wajahnya. Senyum itu, tatapan itu, dan suara lembutnya masih begitu jelas seolah baru kemarin aku mendengarnya.
Namanya Naya.
Ia pernah duduk di kursi goyang itu, dengan rambut hitam panjang yang tertiup angin senja. Aku masih bisa membayangkan bagaimana cahaya sore jatuh di wajahnya, membuatnya tampak seperti bagian dari senja itu sendiri. Indah, tapi juga sebentar.
Aku menatap kosong ke arah jalan kecil di depan rumah. Jalan itu dulu sering menjadi saksi langkah-langkah tergesa kami saat remaja, berlari sambil tertawa tanpa beban. Tapi waktu berjalan, dan kini yang tersisa hanyalah sepi.
Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak aku terakhir kali melihatnya. Hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Aku pergi merantau dengan mimpi-mimpi yang tak sabar ingin kugapai, sementara ia tetap tinggal di kota kecil ini bersama keluarganya.
Namun, apa pun yang kucoba untuk melupakan, tak ada yang benar-benar berhasil. Setiap senja, setiap jingga yang menutup hari, selalu membawaku kembali padanya.
Di beranda rumah tua ini, aku kembali mencari potongan cerita yang hilang.
Aku pikir waktu sudah cukup untuk membuatku melupakan semuanya. Tapi ternyata, semakin aku mencoba menghapus, semakin kuat bayangan itu menempel di dalam ingatan.
Malam sebelum aku kembali ke kota kecil ini, aku tak bisa tidur. Ada rasa berdebar yang tidak masuk akal. Apa yang akan kutemui? Apakah rumah tua ini masih berdiri seperti dulu? Apakah Naya masih tinggal di kota ini, atau sudah pergi jauh? Atau barangkali… ia bahkan sudah lupa siapa aku.
Ketika aku menginjakkan kaki pertama kali di jalan setapak menuju rumah, aku merasa seperti kembali ke masa lalu. Pohon mangga di samping rumah masih berdiri, meski batangnya mulai keriput dan cabangnya tidak serimbun dulu. Bau tanah basah bercampur dengan aroma kayu lapuk mengingatkanku pada sore-sore ketika aku dan Naya duduk bersama di beranda, mengobrol tentang mimpi yang seolah tidak ada habisnya.
“Aku ingin jadi guru, biar bisa dekat dengan anak-anak dan menanamkan sesuatu yang baik untuk masa depan,” katanya waktu itu. Aku hanya tersenyum mendengarnya, sementara dalam hati aku sibuk dengan ambisi lain. Aku ingin pergi ke kota besar, ingin punya nama, ingin membuktikan diri bahwa aku bisa lebih dari sekadar anak kampung.
Keputusan itu akhirnya membawa jarak. Semakin hari, komunikasi kami semakin jarang, lalu perlahan hilang. Aku sibuk dengan pekerjaanku, ia sibuk dengan kehidupannya di sini. Aku tidak pernah benar-benar tahu apakah ia menungguku atau tidak, tapi aku tahu aku telah meninggalkan sesuatu yang berharga.
Kini, duduk sendirian di beranda rumah tua ini, aku merasa dihantui oleh pilihan yang pernah kuambil. Semua pencapaian yang kuraih di kota besar tiba-tiba terasa kosong. Apa gunanya segalanya, jika aku kehilangan satu hal yang paling berarti?
Senja itu semakin meresap ke dalam hatiku. Angin berembus, membawa aroma bunga melati yang ditanam ibu di halaman samping. Aroma itu begitu akrab Naya suka sekali bunga melati. Ia pernah bilang padaku, “Melati itu sederhana, tapi wanginya abadi. Aku ingin cinta seperti itu.”
Aku terhenyak. Kata-kata itu seperti kembali menghantam dadaku. Sederhana, abadi. Dua hal yang tidak bisa kuberikan padanya. Aku justru memilih pergi, mengejar sesuatu yang glamor tapi fana.
Suara langkah kaki di jalan kecil membuyarkan lamunanku. Perlahan, aku menoleh. Seorang perempuan berjalan membawa tas belanja. Rambutnya kini sebahu, wajahnya sedikit lebih dewasa, tapi aku bisa mengenali langkah itu, gerak tubuh itu, bahkan dari kejauhan.
Itu dia.
Naya.
Jantungku berdegup kencang. Aku seperti remaja lagi, canggung dan gelisah. Rasanya sulit percaya, bahwa sosok yang selalu muncul dalam mimpi kini benar-benar berjalan di depan mataku.
Ia melintas tepat di depan pagar rumah tua. Sesaat, ia menoleh. Matanya bertemu dengan mataku. Dunia berhenti sejenak.
“Naya…” aku berbisik, hampir tak terdengar.
Tatapannya terkejut, lalu berubah menjadi ragu. Ada jeda yang panjang sebelum ia akhirnya berkata, “Kamu… pulang?”
Aku mengangguk, bibirku kaku.
“Ya. Sudah lama sekali.”
Ia tersenyum tipis, senyum yang dulu selalu kutunggu. Tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini ada jarak, ada dinding tak kasat mata yang seolah memisahkan kami.
“Kau masih ingat rumah ini,” katanya pelan.
“Bagaimana bisa aku lupa? Di beranda inilah kita sering menghabiskan waktu,” jawabku.
Ia hanya diam, lalu kembali berjalan. Aku hampir kehilangan keberanian untuk memanggilnya lagi, tapi rasa takut lebih besar daripada penyesalan.
“Naya…” panggilku sekali lagi.
Ia berhenti, menoleh, menunggu.
“Apa kau masih suka bunga melati?” tanyaku bodoh. Itu saja yang keluar dari mulutku, padahal ada ribuan hal yang ingin kusampaikan.
Ia tersenyum samar. “Ya. Melati selalu mengingatkanku pada sesuatu yang… hilang.”
Hatiku mencelos. Kata hilang itu seperti palu yang menghantam dadaku. Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan aku yang masih terpaku di beranda rumah tua.
Aku tahu, pertemuan itu bukan akhir. Justru baru awal dari sesuatu yang selama ini kutakuti: kenyataan bahwa mungkin aku sudah terlambat.
Malam setelah aku melihat Naya di depan rumah tua, aku hampir tak bisa tidur. Bayangan tatapannya terus mengganggu pikiranku. Senyum itu memang masih ada, tapi jelas berbeda dengan yang dulu. Senyum itu kini mengandung sesuatu yang asing sebuah jarak, mungkin juga luka.
Aku bertanya-tanya sepanjang malam: apakah ia masih sendiri? Apakah ada seseorang yang kini mengisi hari-harinya? Pertanyaan-pertanyaan itu tak henti-henti mengaduk hatiku.
Pagi harinya, aku memberanikan diri keluar, menapaki jalan kecil yang dulu begitu akrab. Aku ingin mencari jawaban, meski tahu mungkin jawaban itu akan menyakitkan.
Di ujung jalan, aku melihat rumah bercat biru muda dengan pagar besi sederhana. Di depan rumah itu, Naya sedang menyiram bunga. Tangannya lincah menuangkan air ke pot-pot kecil berisi melati, mawar, dan anggrek. Aku berdiri cukup jauh, hanya menatap punggungnya dengan hati bergetar.
Aku ingin mendekat, ingin menyapanya, tapi langkahku seakan terikat. Aku takut. Takut kalau kenyataan yang kutemui tidak sesuai harapan.
Namun, tiba-tiba suara seorang anak kecil memecah kebekuanku.
“Ibu, sudah! Aku mau bantu juga!”
Aku terperangah. Dari dalam rumah, seorang anak perempuan berlari keluar, rambutnya dikuncir dua, matanya bulat penuh semangat. Ia memeluk pinggang Naya sambil tertawa.
“Iya, iya… hati-hati, jangan kena air terlalu banyak,” jawab Naya lembut.
Aku terdiam. Kata “Ibu” yang keluar dari mulut anak itu menamparku keras-keras. Dunia seakan berhenti berputar. Aku menatap lama, berharap telingaku salah dengar, tapi jelas sekali ia memanggil Naya dengan panggilan yang hanya pantas diucapkan seorang anak kepada ibunya.
Dadaku sesak. Jadi, benar. Naya sudah berkeluarga. Ia sudah punya dunia baru yang tak ada hubungannya lagi denganku.
Aku mundur perlahan, takut terlihat, lalu berbalik kembali menuju rumah tua. Setiap langkah terasa berat, seolah ada batu besar yang kuikatkan pada kakiku.
Di beranda, aku duduk lama, mencoba memahami perasaan yang bercampur aduk. Aku ingin marah, tapi pada siapa? Aku ingin menangis, tapi untuk apa? Bukankah aku sendiri yang pergi, meninggalkannya tanpa kepastian?
“Sudah kuduga,” gumamku pada diri sendiri. “Tak ada yang abadi, kecuali penyesalan.”
Hari itu aku mengurung diri di rumah tua, menolak keluar. Namun, sore menjelang senja, suara langkah kaki terdengar mendekat. Suara itu berbeda, pelan tapi mantap, seolah sengaja diarahkan ke arahku.
Aku menoleh, dan benar Naya berdiri di depan pagar, menatapku dengan raut yang sulit kubaca.
“Boleh aku masuk?” tanyanya pelan.
Aku tergagap. “Tentu, tentu… ini masih rumahmu juga.”
Ia melangkah masuk, duduk di kursi goyang yang dulu menjadi favoritnya. Aku hanya bisa menatap, antara kagum, rindu, dan sakit hati.
“Kau terlihat berbeda,” katanya sambil tersenyum samar. “Lebih dewasa, lebih… letih.”
Aku tertawa hambar. “Ya, mungkin. Kota besar memang mengajarkan banyak hal, tapi juga menguras banyak hal.”
Ia menunduk sejenak, lalu menatapku lagi. “Aku dengar dari tetangga, kau sukses di luar sana. Pekerjaan bagus, hidup mapan. Kenapa kau kembali?”
Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk. Aku ingin menjawab jujur, bahwa aku kembali karena aku merindukannya, karena setiap senja di kota besar tak pernah lengkap tanpa bayangan wajahnya. Tapi lidahku kelu.
“Aku… lelah,” jawabku singkat. “Aku ingin pulang, mencari sesuatu yang hilang.”
Naya terdiam lama. Angin senja meniup rambutnya, membawa aroma melati dari halaman samping. Ia akhirnya berkata lirih, “Kadang, sesuatu yang hilang memang tak bisa ditemukan lagi. Kita hanya bisa menyimpannya sebagai kenangan.”
Aku tercekat. Kata-katanya jelas mengisyaratkan sesuatu. Aku tak tahan, akhirnya aku memberanikan diri bertanya.
“Naya… anak itu. Dia anakmu?”
Ia menatapku lama, seolah menimbang apakah harus menjawab atau tidak. Lalu ia mengangguk pelan. “Ya. Namanya Aira. Dia hidupku sekarang.”
Hatiku hancur, tapi aku mencoba tetap tegar. “Ayahnya?” tanyaku lagi, meski aku tahu pertanyaan itu terlalu jauh.
Naya menarik napas panjang. “Dia pergi. Bertahun-tahun lalu. Jadi ya… bisa dibilang aku membesarkan Aira sendiri.”
Aku terdiam. Antara lega karena ia tidak benar-benar bersama pria lain, dan sedih karena harus melihatnya menanggung beban yang berat sendirian.
“Naya… maafkan aku,” kataku akhirnya. “Aku pergi tanpa berpikir panjang. Aku tinggalkan kau tanpa kepastian. Kalau saja aku… kalau saja aku lebih berani…”
“Sudahlah,” potong Naya lembut. “Hidup ini penuh pilihan. Kau memilih pergi, aku memilih bertahan. Dan dari pilihan itu, kita sampai di titik ini. Bukan salah siapa-siapa.”
Tapi aku tahu, meski ia berkata begitu, ada luka yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Senja semakin merambat turun. Di beranda rumah tua, kami duduk berdua, terjebak di antara masa lalu yang belum selesai dan kenyataan yang tak bisa dihindari.
Aku ingin meraih tangannya, ingin berkata bahwa aku masih mencintainya, tapi aku juga tahu hidupnya kini bukan hanya tentang dirinya. Ada Aira, ada tanggung jawab yang tak bisa kuabaikan.
Dan di situlah ketegangan itu tumbuh antara rindu yang membara dan kenyataan yang membatasi.
Senja itu berlalu, meninggalkan langit yang gelap dan lampu-lampu jalan yang menyala redup. Setelah Naya pulang bersama Aira, aku duduk lama di beranda rumah tua. Angin malam menusuk kulitku, tapi lebih dingin lagi adalah perasaan di dalam dada.
Aku ingin percaya bahwa waktu bisa mengulang. Bahwa semua yang retak bisa diperbaiki. Namun, kenyataan tidak semudah itu. Ada Aira, ada hidup baru yang telah Naya bangun dengan susah payah. Aku tidak bisa begitu saja masuk dan meruntuhkan dunia yang sudah ia perjuangkan.
Tapi… aku juga tidak bisa menolak bahwa aku masih mencintainya. Rasa itu tidak pernah pergi, justru semakin tumbuh seiring waktu dan jarak.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri mendatangi rumahnya. Aira sedang bermain di halaman depan dengan boneka kecil di tangannya. Ketika melihatku, ia menatap dengan rasa ingin tahu.
“Om siapa?” tanyanya polos.
Aku tersenyum kikuk. “Om teman ibumu dulu.”
Aira mengangguk, lalu kembali asyik bermain. Naya keluar dari rumah dengan wajah terkejut, tapi segera tersenyum samar.
“Kau datang…” katanya.
“Ya. Boleh aku masuk?” tanyaku hati-hati.
Naya mempersilakan, dan kami duduk di ruang tamu sederhana. Dindingnya dipenuhi foto-foto Aira sejak kecil, juga satu dua foto keluarga lama. Tapi tak ada foto seorang pria pun di sana.
Aku mencoba membuka percakapan. “Kau tinggal di sini bersama Aira saja?”
“Iya. Orangtuaku sudah lama tiada. Jadi, hanya kami berdua.”
Aku mengangguk pelan. Dalam hati, aku semakin kagum pada kekuatannya. Membesarkan anak seorang diri bukan hal mudah, apalagi di kota kecil yang serba terbatas.
“Apa kau bahagia?” tanyaku akhirnya.
Naya menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, tapi senyumnya tetap lembut. “Bahagia itu sederhana. Selama Aira sehat, bisa sekolah, bisa tertawa… aku sudah cukup.”
Aku tercekat. Kata-katanya menusukku dalam-dalam. Aku ingin sekali berkata bahwa aku bisa membantu, bahwa aku ingin menjadi bagian dari kebahagiaannya. Tapi aku juga tahu, aku tidak bisa egois.
Hari-hari berikutnya, aku mulai sering berkunjung. Kadang aku menemani Aira belajar, kadang aku membantu Naya merapikan halaman. Perlahan-lahan, suasana yang dulu hilang seperti kembali hadir.
Namun, di balik semua itu, ada tembok tak kasat mata yang tetap memisahkan kami. Naya tidak pernah benar-benar membuka hati, meski aku bisa merasakan bahwa ia tidak menutup pintu sepenuhnya.
Suatu sore, saat kami duduk di beranda rumahnya, aku memberanikan diri bertanya sesuatu yang sudah lama mengganjal.
“Naya… jika waktu bisa diulang, apa kau akan memilihku lagi?”
Ia terdiam lama, menatap langit jingga yang hampir tenggelam. Lalu ia berkata pelan, “Aku tidak tahu. Waktu tidak pernah bisa diulang. Dan aku tidak ingin membiarkan diriku terjebak di masa lalu.”
Aku menunduk, merasakan luka yang menganga semakin lebar. Tapi aku juga tahu, ia benar. Hidupnya kini bukan hanya tentang dirinya. Ada Aira. Ada masa depan yang harus ia jaga.
“Naya… aku masih mencintaimu,” kataku lirih, akhirnya mengucapkan kata yang selama ini kutahan.
Ia terkejut, lalu tersenyum pahit. “Aku tahu. Dan jujur saja… aku pun tidak pernah benar-benar melupakanmu. Tapi, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Aku bukan gadis muda yang kau kenal dulu. Aku seorang ibu. Hidupku bukan hanya milikku lagi.”
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk tapi nyata. Rindu kami tidak bisa begitu saja menghapus tanggung jawab yang ada.
Hari-hari berlalu dengan rasa yang semakin rumit. Aku dan Naya seperti berjalan di garis tipis antara masa lalu dan masa kini. Ada tawa yang sesekali hadir, ada kebisuan yang penuh arti, ada tatapan yang menahan kata-kata.
Sampai suatu malam, hujan turun deras. Aku nekat datang ke rumah Naya, basah kuyup, hanya untuk mengucapkan sesuatu yang tak bisa lagi kutunda.
“Naya…” suaraku parau ketika ia membukakan pintu. “Aku tidak ingin pergi lagi. Aku ingin tetap di sini. Bukan hanya karena aku merindukanmu, tapi karena aku ingin menjadi bagian dari hidupmu hidup kalian berdua.”
Naya menatapku lama, matanya bergetar. “Kau sadar apa yang kau katakan? Ini bukan sekadar cinta remaja yang bisa kau tinggalkan kapan saja. Ini tentang tanggung jawab, tentang masa depan seorang anak.”
“Aku tahu,” jawabku mantap. “Dan aku siap. Aku tidak peduli dengan masa laluku yang penuh ambisi. Semua itu tidak ada artinya tanpa kalian. Izinkan aku membuktikan.”
Air mata menetes di pipinya. Ia menunduk, lalu berbisik, “Aku takut. Aku takut berharap lagi. Aku sudah terlalu sering kecewa.”
Aku mendekat, menggenggam tangannya dengan hati-hati. “Aku pun takut, Naya. Tapi aku lebih takut kehilanganmu sekali lagi.”
Di luar, hujan masih deras. Tapi di dalam, ada keheningan yang penuh makna. Kami duduk lama, saling diam, hanya tatapan yang berbicara.
Aku tahu jalan ini tidak akan mudah. Akan ada banyak rintangan, banyak keraguan. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa punya keberanian untuk berjuang.
Karena cinta sejati, meski datang terlambat, selalu pantas diperjuangkan.
Hari-hari setelah malam hujan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang berubah, meski tak terucapkan secara jelas. Naya tetap menjaga jarak, namun aku bisa merasakan bahwa hatinya tidak sepenuhnya tertutup. Ia masih waspada, masih takut, tapi ada ruang kecil yang seolah memberi kesempatan padaku untuk masuk.
Aku berusaha mengisi ruang itu dengan kesabaran. Aku tidak lagi ingin terburu-buru, seperti dulu saat muda. Kini aku tahu, cinta bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang tanggung jawab, tentang keberanian untuk tetap ada meski keadaan tidak sempurna.
Setiap sore aku kembali ke rumah tua, duduk di beranda yang sudah rapuh, memandang senja sambil berharap Naya datang. Kadang ia muncul bersama Aira, kadang hanya Aira yang berlari-lari kecil menghampiriku.
“Om, main sama aku, yuk!” seru Aira dengan mata berbinar.
Aku tertawa, lalu mengajaknya bermain kelereng di halaman. Melihatnya tertawa, aku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupku: kebahagiaan yang sederhana.
Naya kadang menatap dari kejauhan, senyum tipis di wajahnya. Ada rasa hangat yang tumbuh setiap kali aku melihatnya begitu. Senyum itu mengingatkanku pada masa lalu, tapi juga memberiku harapan untuk masa depan.
Suatu sore, aku dan Naya akhirnya berbicara serius di beranda.
“Naya, aku tahu kau masih ragu padaku,” kataku pelan. “Tapi aku tidak ingin hanya menjadi tamu di hidupmu. Aku ingin benar-benar ada. Untukmu, dan untuk Aira.”
Ia menatapku lama, matanya lembut tapi penuh kehati-hatian. “Aku tidak bisa memberimu jawaban sekarang. Aku takut… jika aku membiarkanmu masuk lagi, lalu suatu hari kau pergi, aku tidak hanya kehilanganmu, tapi Aira juga akan kehilangan.”
Aku terdiam. Kata-katanya masuk akal. Baginya, ini bukan lagi soal cinta semata, tapi juga soal melindungi seorang anak.
“Aku mengerti,” jawabku akhirnya. “Kalau begitu, izinkan aku tetap di sini. Tidak peduli kau terima aku atau tidak, aku ingin mendukungmu. Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau andalkan.”
Ada keheningan panjang setelah itu. Senja menutup hari, angin meniup dedaunan, dan suara jangkrik mulai terdengar. Lalu, perlahan, Naya berkata lirih, “Kau benar-benar berubah. Aku bisa merasakannya.”
Aku hanya tersenyum. “Mungkin karena aku akhirnya tahu, apa arti pulang.”
Hari-hari berikutnya menjadi bukti dari kata-kataku. Aku membantu Naya membuka usaha kecil di rumahnya menjual kue buatan tangannya yang enak. Aku juga mengantar Aira ke sekolah, mendampinginya belajar, bahkan membacakan dongeng sebelum tidur.
Sedikit demi sedikit, aku menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tidak ada pernyataan cinta yang meledak-ledak, tidak ada janji manis yang diucapkan berlebihan. Hanya tindakan-tindakan kecil, nyata, yang perlahan merajut kembali kepercayaan yang pernah hilang.
Dan aku sadar, inilah bentuk cinta yang sebenarnya. Cinta yang tidak lagi hanya tentang rasa ingin memiliki, tapi tentang memberi, menjaga, dan menemani.
Suatu sore, saat langit jingga begitu indah, aku, Naya, dan Aira duduk bersama di beranda rumah tua. Aira tertidur di pangkuan ibunya, sementara aku duduk di samping, memandang mereka dengan perasaan penuh syukur.
“Naya…” panggilku pelan.
Ia menoleh, menatapku dengan mata yang penuh kehangatan.
“Terima kasih,” kataku. “Karena sudah memberiku kesempatan untuk ada di sini lagi. Aku tahu perjalanan kita belum tentu mudah, tapi aku ingin berjalan bersama, apa pun yang terjadi.”
Naya tersenyum. Senyum yang kali ini tidak lagi asing, tidak lagi penuh jarak. Senyum yang hangat, yang kukenal bertahun-tahun lalu, tapi kini lebih matang, lebih dalam.
“Kau tahu,” katanya lirih, “aku dulu pernah berdoa agar kita bisa duduk bersama di beranda ini lagi, memandang senja. Aku pikir itu mustahil. Tapi lihat kita sekarang…”
Aku menggenggam tangannya. Ia tidak menolak.
Senja di depan mata perlahan tenggelam, meninggalkan garis jingga terakhir di ufuk barat. Tapi aku tidak lagi merasa kehilangan. Untuk pertama kalinya, aku merasa senja tidak hanya tentang perpisahan, tapi juga tentang awal yang baru.
Malam itu, setelah aku kembali ke rumah tua, aku duduk lama di kursi goyang. Suara papan kayu berderit mengiringi pikiranku yang melayang. Aku sadar, perjalanan ini belum selesai. Akan ada banyak rintangan, akan ada masa-masa sulit.
Tapi aku tidak takut. Karena kini aku tidak lagi sendiri.
Sepotong senja di beranda rumah tua ini telah mengajarkanku banyak hal: tentang rindu yang tak pernah padam, tentang luka yang bisa sembuh perlahan, dan tentang cinta yang, meski datang terlambat, tetap bisa menjadi rumah.
Dan mungkin, inilah arti pulang yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar