Cerpen: Hujan di Ujung Senja

 


Hujan di Ujung Senja

Senja baru saja turun ketika awan kelabu menutup langit kota kecil itu. Jalanan basah mulai ramai dengan orang-orang yang tergesa mencari tempat berteduh. Hujan datang tidak dengan rintik kecil, melainkan deras sekaligus, seakan menumpahkan segala kesedihan yang tertahan di langit.

Di sebuah halte tua di pinggir jalan, seorang perempuan muda duduk menunggu. Rambut hitamnya basah, sebagian menempel di wajah. Namanya Alya, seorang guru honorer di sekolah dasar dekat pasar. Sehari-hari ia terbiasa pulang dengan berjalan kaki, namun kali ini hujan menahannya.

Sambil memeluk tas kecilnya, Alya menatap jalanan. Mobil dan motor melintas dengan kecepatan tinggi, menebarkan cipratan air. Hatinya ikut larut bersama derasnya hujan. Ada sesuatu yang mengganjal sejak pagi tadi: sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal yang hanya berisi kata, “Kita bisa bertemu sore ini?”

Awalnya ia mengira itu salah kirim. Tapi entah mengapa, firasatnya mengatakan pesan itu bukan sekadar kebetulan.

Beberapa menit kemudian, langkah berat seorang lelaki mendekat ke halte. Jaketnya sudah basah kuyup. Lelaki itu menurunkan ransel dari bahunya, lalu menoleh ke arah Alya.

Mata mereka bertemu.

Alya tercekat. Lelaki itu adalah Raka sahabat masa kecilnya, yang sudah lebih dari delapan tahun tak pernah ia jumpai lagi.

“...Alya?” suara Raka serak, mungkin karena kelelahan.

Alya hampir tidak percaya. Tubuh Raka lebih tinggi dari yang ia ingat, wajahnya lebih tegas dengan garis rahang yang jelas, tapi mata itu… tetap sama. Mata yang dulu sering menatapnya ketika mereka bersepeda menyusuri sawah.

“Raka?” suaranya bergetar, setengah tak yakin.

Lelaki itu tersenyum kecil, senyum yang sama sekali tidak asing. “Aku kira kamu sudah pindah dari kota ini.”

Alya menunduk. “Aku masih di sini. Mengajar di SD dekat pasar.”

Raka mengangguk, lalu duduk di sampingnya. Sejenak keduanya terdiam, hanya suara hujan yang mengisi ruang di antara mereka.

Hati Alya berdegup kencang. Ingatan masa lalu menyeruak begitu cepat—tentang janji-janji kecil yang pernah mereka buat, tentang sore-sore di tepi sungai, tentang mimpi yang dulu ingin mereka kejar bersama. Namun semua itu terhenti sejak Raka pindah ke kota besar demi melanjutkan kuliah.

“Aku baru kembali minggu lalu,” kata Raka tiba-tiba, seolah ingin memecah keheningan. “Ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Tapi… aku nggak tahu harus mulai dari mana.”

Alya menoleh. “Kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku?”

Raka terdiam cukup lama. Matanya menerawang jauh, menembus tirai hujan. “Karena aku sadar… ada satu hal yang belum pernah selesai.”

Jantung Alya semakin berdebar. Ia tahu persis apa yang dimaksud. Delapan tahun lalu, tepat di bawah pohon mangga di halaman rumah Alya, Raka pernah berjanji akan kembali. Tapi waktu berjalan terlalu cepat, meninggalkan jarak dan luka yang sulit dijelaskan.

“Aku sempat marah,” kata Alya lirih. “Kamu pergi tanpa kabar. Bahkan surat atau pesan pun tidak ada.”

Raka menunduk, wajahnya penuh penyesalan. “Aku tahu. Itu salahku. Waktu itu aku terlalu sibuk mengejar mimpi, sampai lupa bahwa ada seseorang yang menungguku.”

Alya menghela napas panjang. Suara hujan semakin deras, seakan menutup semua rasa canggung.

“Sekarang?” tanya Alya pelan. “Apa yang kamu cari dengan kembali?”

Raka menatapnya lekat-lekat. “Aku mencari rumah. Dan aku rasa… rumahku selalu ada di dekatmu.”

Kalimat itu menusuk hati Alya. Ia ingin marah, tapi juga ingin menangis. Delapan tahun bukan waktu singkat. Banyak luka yang terlanjur ia pendam, banyak dinding yang ia bangun untuk melindungi dirinya sendiri. Namun melihat Raka di hadapannya saat ini, semua pertahanan itu perlahan runtuh.

“Raka…” suaranya bergetar. “Kamu terlambat.”

Raka menghela napas panjang. “Mungkin. Tapi kalau masih ada kesempatan, aku ingin memperbaikinya.”

Alya terdiam. Matanya basah, entah karena hujan yang menetes dari rambut atau air mata yang sejak tadi ia tahan.

Hujan masih turun deras, dan udara mulai dingin menusuk kulit. Di halte kecil itu, Alya dan Raka duduk berdampingan, tapi jarak di hati mereka masih jauh.

Alya menggenggam erat tali tasnya, berusaha menahan diri agar tidak larut dalam emosi. Baginya, kedatangan Raka seperti membuka luka lama yang sudah susah payah ia sembuhkan.

“Alya,” suara Raka pelan, nyaris tenggelam oleh gemericik hujan. “Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf. Tapi aku ingin kamu tahu alasan kenapa aku menghilang waktu itu.”

Alya menoleh cepat. “Alasan? Setelah delapan tahun? Kamu pikir penjelasan sekarang masih ada gunanya?”

Nada suaranya meninggi. Beberapa orang yang berteduh di dekat sana menoleh sekilas, tapi Alya tidak peduli.

Raka menarik napas panjang. “Aku… kehilangan arah, Ly. Kuliahku waktu itu berat, biaya hidup di kota besar juga menekan. Aku bekerja sambilan, sampai-sampai aku tidak punya waktu untuk sekadar menulis surat. Aku malu pada diriku sendiri, aku takut kamu kecewa karena aku belum jadi siapa-siapa.”

Alya terdiam. Kata-kata itu menghantam hatinya. Bagian dirinya ingin percaya, tapi bagian lain merasa itu hanya alasan yang terlambat datang.

“Kalau memang begitu, kenapa sekarang kamu kembali? Kenapa bukan dulu-dulu?” tanyanya getir.

Raka menunduk, menatap lantai halte yang basah. “Karena aku sudah belajar. Aku sadar mimpi sebesar apa pun tidak ada artinya kalau aku kehilangan orang yang paling penting.”

Alya merasakan matanya panas. Ada bagian dari dirinya yang ingin luluh, tapi ia menolak. Ia sudah membangun hidupnya sendiri.

“Aku sudah hampir menikah, tahu?” Alya mengucapkannya begitu saja, tanpa pikir panjang.

Raka mendongak kaget. “Apa?”

Alya mengangguk pelan. “Dua tahun lalu. Tapi gagal.”

Suasana menjadi hening. Hanya hujan deras yang menabuh atap halte seperti drum kesedihan.

“Kenapa gagal?” tanya Raka hati-hati.

Alya menelan ludah. “Karena dia memilih orang lain. Dan aku… aku tidak ingin membicarakan itu.”

Raka menatapnya lama, lalu berkata, “Kalau begitu, kita sama-sama gagal, Ly. Bedanya, aku gagal menjaga hatimu.”

Alya ingin marah, ingin mengatakan sesuatu yang menyakitkan agar Raka merasakan pedihnya penantian yang sia-sia. Namun matanya justru basah. Air mata itu jatuh tanpa bisa ia tahan.

“Delapan tahun, Raka,” bisiknya lirih. “Aku menunggumu delapan tahun. Setiap hujan turun, aku selalu berharap kamu kembali. Tapi yang datang hanya sepi.”

Raka bergeser, mendekat, lalu mengulurkan sapu tangan lusuh dari saku jaketnya. “Aku minta maaf, Ly. Aku tidak bisa mengembalikan waktu. Tapi aku ingin menghabiskan sisa waktuku dengan memperbaiki semua yang rusak.”

Alya menatap sapu tangan itu. Tangannya bergetar ketika ia menerimanya. Hatinya berperang: antara keinginan untuk menolak, dan kerinduan yang diam-diam masih ada.

“Raka,” suaranya pelan. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan karena kamu pergi. Tapi karena kamu tidak pernah memberi pilihan padaku. Kamu memutuskan sendiri untuk menghilang, seakan aku tidak penting.”

Raka menunduk dalam-dalam. “Aku tahu. Dan aku salah. Aku terlalu egois waktu itu.”

Alya menghela napas berat. “Sekarang aku tidak tahu harus apa. Aku ingin membencimu, tapi aku juga tidak bisa pura-pura tidak peduli.”

Hujan mulai mereda, tapi hati mereka masih penuh badai.

Raka berdiri, lalu menatap Alya dengan sungguh-sungguh. “Aku tidak minta kamu langsung memaafkan. Aku hanya ingin kesempatan. Satu saja. Untuk menunjukkan bahwa aku bisa lebih baik.”

Alya memandangnya lama. Ada ketulusan di mata Raka, sesuatu yang dulu selalu membuatnya luluh. Tapi luka lama bukan sesuatu yang mudah disembuhkan.

“Kamu pikir aku masih orang yang sama seperti dulu?” Alya bertanya.

Raka tersenyum samar. “Tidak. Kamu pasti sudah banyak berubah. Tapi bagiku… kamu tetap Alya yang membuatku merasa pulang.”

Hening kembali mengisi sela di antara mereka. Beberapa orang sudah meninggalkan halte, berjalan di jalanan yang mulai kering. Senja menyisakan langit jingga yang samar di balik awan.

Alya berdiri, merapikan tas kecilnya. “Aku harus pulang. Besok pagi aku mengajar.”

Raka menahan langkahnya. “Boleh aku mengantarmu?”

Alya menatapnya sejenak, lalu menggeleng. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”

Namun sebelum pergi, ia menambahkan pelan, “Besok sore, aku masih mengajar sampai jam empat. Kalau kamu memang serius ingin memperbaiki semuanya… temui aku di depan sekolah.”

Raka terpaku, lalu tersenyum kecil. “Baik. Aku akan datang.”

Alya melangkah pergi, meninggalkan Raka yang masih berdiri di halte. Hatinya kacau, tapi juga ada secercah harapan yang diam-diam tumbuh.

Di balik semua luka, mungkin hujan kali ini membawa kesempatan baru.

Esok sore, seperti yang ia katakan, Alya berdiri di depan gerbang sekolah. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang khas. Anak-anak berlarian keluar dengan wajah ceria, beberapa melambaikan tangan pada gurunya sebelum pulang.

Alya tersenyum melihat mereka, tapi senyum itu hanya sebentar. Di hatinya ada kegelisahan yang sulit ia abaikan. Ia tidak tahu apakah benar keputusan untuk bertemu Raka lagi adalah hal yang tepat.

Ia melirik jam tangan. Pukul empat lebih lima menit. Dan di sisi jalan, berdiri seorang lelaki dengan jaket hitam yang dikenalnya sejak dulu.

Raka menepati janjinya.

“Aku pikir kamu tidak datang,” kata Alya saat menghampiri.

Raka tersenyum kecil. “Aku sudah berjanji. Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.”

Alya menunduk. Hatinya masih bergejolak, tapi ia memilih diam. Mereka berjalan berdampingan, menyusuri jalan setapak yang basah menuju taman kota.

Di bangku taman yang agak sepi, mereka duduk. Senja kali ini lebih ramah, memberi cahaya oranye yang hangat di antara pepohonan.

Raka membuka pembicaraan, “Ly, aku ingin bicara jujur. Boleh?”

Alya menoleh cepat. “Selama ini kamu belum jujur?”

Raka menghela napas. “Maksudku… lebih jujur lagi. Sebenarnya, aku kembali bukan hanya karena ingin meminta maaf. Aku juga kembali karena aku menolak sebuah jalan hidup yang sudah hampir kupilih.”

Alya mengernyit. “Maksudnya?”

Raka menatap jauh, matanya menerawang. “Aku hampir menikah, Ly. Tapi aku sadar, hatiku tidak pernah benar-benar lepas darimu. Aku tidak bisa menipu diriku sendiri, apalagi menipu orang lain. Jadi aku memilih pulang.”

Alya terdiam, tubuhnya menegang. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar. Ada bagian dari dirinya yang ingin merasa lega, tapi ada pula bagian yang marah besar.

“Jadi… selama ini ada perempuan lain?” suaranya bergetar.

Raka menunduk. “Ada. Tapi aku tidak mencintainya seperti aku mencintaimu.”

Alya tertawa getir, matanya berkaca-kaca. “Hebat. Kamu bisa meninggalkan dua orang sekaligus dengan alasan cinta. Aku benar-benar tidak tahu harus menilaimu apa, Raka.”

Raka terdiam, menerima amarah Alya. Hatinya sakit, tapi ia tahu itu pantas.

“Aku tidak ingin kamu salah paham,” katanya pelan. “Aku tidak main-main dengan dia. Aku mencoba untuk membuka hati, karena aku pikir kamu sudah melupakanku. Tapi aku gagal, Ly. Aku tidak bisa membohongi diri sendiri. Aku hanya mencintaimu.”

Alya menggigit bibir. Air mata jatuh begitu saja, tapi kali ini bukan hanya karena sedih, melainkan juga marah.

“Raka, kamu tahu apa artinya delapan tahun? Aku hidup sendiri, berusaha berdiri tanpa siapa-siapa. Lalu sekarang kamu datang dengan semua penyesalan dan mengira aku bisa begitu saja menerima?”

Raka meraih tangannya, tapi Alya segera menarik diri.

Keheningan panjang tercipta. Burung-burung senja berterbangan kembali ke sarang, sementara di bangku taman, dua hati itu masih terikat oleh benang kusut masa lalu.

“Aku tidak minta kamu langsung menerima,” kata Raka akhirnya. “Aku hanya ingin kesempatan. Jika setelah ini kamu benar-benar menolakku, aku akan pergi. Tapi biarkan aku berjuang dulu, sekali saja.”

Alya menatapnya, matanya merah. “Kamu selalu datang terlambat, Raka. Bahkan perjuanganmu pun terlambat.”

Mereka terdiam cukup lama. Lalu Alya berdiri, menatap langit yang perlahan gelap.

“Besok sore aku ada di perpustakaan kota,” katanya pelan. “Aku sering ke sana untuk menyiapkan bahan ajar. Kalau kamu masih ingin membuktikan sesuatu, datanglah. Tapi jangan berharap aku akan mempermudah jalanmu.”

Raka berdiri, menatapnya penuh harap. “Aku akan datang. Terima kasih, Ly.”

Alya tidak menjawab. Ia melangkah pergi, meninggalkan Raka yang masih berdiri di taman dengan dada penuh sesak.

Malam itu, Alya duduk di kamar kecilnya. Buku pelajaran terbuka di meja, tapi pikirannya tidak bisa fokus. Ia menatap hujan rintik di luar jendela, teringat setiap kata yang Raka ucapkan.

Satu sisi hatinya masih menyimpan kerinduan, tapi sisi lain penuh amarah.

“Kenapa kamu harus kembali sekarang, Raka…” gumamnya lirih.

Air matanya kembali jatuh, membasahi kertas yang terbuka di hadapannya.

Sementara itu, di penginapan sederhana tempat Raka tinggal, ia duduk termenung. Foto lama yang selalu ia simpan di dompetnya ia keluarkan lagi—foto kecil dirinya dan Alya saat SMA, tersenyum ceria di tepi sungai.

“Aku tidak akan menyerah kali ini,” bisiknya. “Aku akan buktikan, Ly.”

Keesokan sore, perpustakaan kota cukup ramai. Anak-anak muda sibuk membaca atau mengerjakan tugas, beberapa orang tua mencari bacaan ringan.

Alya duduk di sudut, membuka buku matematika kelas 5. Ia mencoba fokus, tapi sesekali matanya melirik ke pintu masuk.

Dan benar saja, sosok Raka muncul, membawa beberapa buku tebal. Ia tersenyum, seolah ingin menunjukkan kesungguhannya.

Tanpa banyak bicara, Raka duduk di hadapannya, lalu membuka buku. “Aku akan menemanimu belajar, Ly. Seperti dulu.”

Alya tertegun. Ingatan masa SMA menyeruak kembali—malam-malam belajar bersama di teras rumah, Raka yang selalu sabar mengajarinya soal-soal sulit.

Hatinya bergetar, tapi ia tetap menjaga wajahnya datar. “Jangan kira ini mudah, Raka. Aku tidak akan percaya hanya karena kamu muncul sekali.”

Raka mengangguk mantap. “Aku akan datang setiap hari kalau perlu. Aku ingin kamu tahu, aku serius.”

Hari demi hari berlalu. Raka benar-benar menepati ucapannya. Ia datang ke perpustakaan, membantu Alya mencari referensi, bahkan kadang membawakan makanan kecil untuknya.

Sedikit demi sedikit, dinding hati Alya mulai retak. Ia melihat kesungguhan itu, dan hatinya mulai bertanya-tanya: mungkinkah Raka benar-benar berubah?

Namun tepat saat hatinya hampir luluh, sebuah pesan masuk di ponsel Alya. Pesan dari seorang perempuan tak dikenal:

"Kamu mungkin tidak tahu, tapi Raka pernah berjanji menikahiku. Hati-hati, jangan sampai kamu jadi korban berikutnya."

Pesan itu membuat dunia Alya runtuh seketika.

Ponsel Alya bergetar di tangannya. Matanya membeku pada pesan singkat itu. Kata-kata asing dari seseorang yang tidak ia kenal membuat dadanya sesak.

"Raka pernah berjanji menikahiku. Hati-hati, jangan sampai kamu jadi korban berikutnya."

Tangannya gemetar. Dunia yang baru saja terasa stabil kini kembali goyah. Seakan semua usaha Raka selama ini hanya ilusi yang mudah hancur.

Saat itu juga, Raka datang membawa dua cangkir kopi dari mesin otomatis di pojok perpustakaan. Senyum kecil menghiasi wajahnya. “Aku ingat kamu suka kopi hitam tanpa gula. Nih, masih panas.”

Alya menatapnya lama. Wajah yang dulu begitu ia rindukan kini terasa asing. Pesan itu berputar-putar di kepalanya.

“Apa benar kamu pernah berjanji menikahi orang lain?” suaranya dingin, nyaris berbisik.

Raka tertegun, cangkir di tangannya nyaris jatuh. “Ly, dari mana kamu dengar itu?”

“Jawab!” Alya meninggi, beberapa orang di sekitar menoleh penasaran.

Raka menutup mata sejenak, lalu menarik kursi lebih dekat. “Ya. Aku memang pernah berjanji. Tapi bukan janji yang lahir dari hati. Itu janji yang kubuat karena tekanan.”

Alya menahan napas. “Tekanan?”

Raka mengangguk. “Keluarga di kota ingin aku segera menikah. Ada seorang perempuan baik yang dekat denganku. Mereka mengira aku mencintainya. Aku… mencoba meyakinkan diriku bahwa itu jalan yang benar. Aku bahkan bilang padanya kalau suatu hari aku akan menikahinya. Tapi semua itu salah, Ly. Aku tidak bisa. Hatiku tetap ada di sini, di kamu.”

Alya menatapnya dengan mata penuh luka. “Kamu tahu seberapa egois kedengarannya? Kamu membuat orang lain berharap, lalu meninggalkan begitu saja. Sama seperti yang kamu lakukan padaku dulu.”

Raka menunduk. “Aku sadar, Ly. Aku pengecut. Aku membuat banyak kesalahan. Tapi kali ini aku tidak akan lari. Jika kamu butuh bukti, aku akan mencari perempuan itu, aku akan menjelaskan langsung di depanmu. Aku tidak ingin ada rahasia lagi di antara kita.”

Suasana hening. Alya menunduk, menatap kopi panas yang mengepulkan uap di meja. Hatinya penuh dilema.

Selama ini ia selalu membayangkan momen di mana Raka kembali, meminta maaf, dan ia akhirnya lega. Tapi kenyataannya jauh lebih rumit. Ada masa lalu yang tidak bisa dihapus, ada luka yang tak bisa sembuh dalam semalam.

“Aku lelah, Raka,” katanya pelan. “Aku tidak tahu apakah aku punya tenaga lagi untuk mempercayaimu.”

Raka menatapnya, sorot matanya penuh kesungguhan. “Kalau begitu, biarkan aku yang berjuang sendirian. Kamu tidak perlu lakukan apa-apa. Kamu hanya perlu melihat, apakah aku pantas atau tidak untuk kembali ke hidupmu.”

Alya menggeleng, matanya berkaca. “Dan kalau aku bilang tidak? Kalau aku benar-benar tidak bisa lagi?”

Raka menarik napas dalam. “Maka aku akan menerima. Tapi setidaknya aku sudah mencoba. Karena mencintaimu, bagiku, lebih baik daripada menyerah tanpa perlawanan.”

Kalimat itu menghantam hati Alya. Ia terdiam cukup lama, sampai akhirnya berdiri dengan langkah berat.

“Aku butuh waktu,” katanya lirih. “Jangan ganggu aku beberapa hari ke depan. Kalau kamu sungguh-sungguh, kamu akan tahu caranya menunjukkan itu. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan sikap.”

Tanpa menunggu jawaban, Alya pergi meninggalkan perpustakaan.

***

Hari-hari berikutnya terasa panjang. Alya sibuk mengajar, menyiapkan bahan pelajaran, dan berusaha mengabaikan bayangan Raka. Tapi diam-diam, ia memperhatikan dari jauh.

Raka benar-benar menepati ucapannya. Ia datang ke sekolah sebagai relawan, membantu anak-anak membuat kegiatan ekstrakurikuler, memperbaiki perpustakaan sekolah yang rusak, bahkan mengajar bahasa Inggris secara gratis.

Anak-anak menyukainya. Rekan guru pun menghormatinya.

Alya yang awalnya berusaha menjaga jarak akhirnya tidak bisa menolak fakta: Raka menunjukkan kesungguhannya bukan hanya padanya, tapi pada orang-orang yang penting dalam hidupnya.

Suatu sore, setelah kegiatan sekolah selesai, Alya mendapati Raka sedang duduk di bangku halaman, dikerumuni murid-murid yang tertawa ceria. Ia mengajarkan mereka lagu bahasa Inggris sederhana sambil memainkan gitar tua pinjaman sekolah.

Pemandangan itu menohok hati Alya. Ia melihat sisi Raka yang dulu membuatnya jatuh cinta: sabar, hangat, dan tulus.

Malamnya, Alya duduk di kamarnya, menatap jendela. Hujan turun lagi, kali ini lebih lembut.

Ia teringat kembali pada semua luka, semua penantian. Tapi ia juga teringat pada kebahagiaan kecil yang dulu pernah mereka rasakan.

“Apakah aku akan bodoh kalau memberi kesempatan lagi?” gumamnya sendiri.

Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan hanya karena sakit, melainkan juga karena harapan.

***

Beberapa hari kemudian, di halte tua tempat mereka pertama kali bertemu kembali, Alya datang. Senja berwarna jingga keemasan, hujan baru saja reda, dan udara basah menyelimuti jalanan.

Raka sudah ada di sana, berdiri dengan wajah cemas.

“Alya…” suaranya pelan.

Alya menatapnya lama, lalu berkata, “Aku tidak bisa menghapus delapan tahun itu, Raka. Aku tidak bisa melupakan semua rasa sakit.”

Raka menunduk, wajahnya muram.

“Tapi,” lanjut Alya, “aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku masih mencintaimu. Dan aku ingin mencoba, sekali lagi.”

Raka tertegun. Air matanya nyaris jatuh, tapi ia segera tersenyum lega. Ia mendekat, ingin meraih tangan Alya, tapi berhenti setengah jalan. “Bolehkah aku…?”

Alya mengangguk pelan.

Raka menggenggam tangannya erat. “Terima kasih, Ly. Aku janji kali ini aku tidak akan pergi lagi. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap di sisimu.”

Alya menatapnya, senyum tipis menghiasi wajah yang penuh air mata. “Jangan hanya janji, Raka. Buktikan dengan hidupmu.”

Langit senja perlahan gelap, tapi di hati mereka ada cahaya baru. Hujan di ujung senja yang dulu membawa perpisahan, kini menjadi saksi sebuah permulaan baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)

Cerpen 6: Sepotong Roti di Meja Tua

Cerpen Romantis: Surat yang Tak Pernah Terkirim (Karya Risti Windri Pabendan)