Telepon Tengah Malam

 


Aku selalu membenci telepon yang berdering di tengah malam. Suaranya seperti alarm di hati, memaksa aku terbangun dari tidur lelapku. Malam itu hujan deras, dan aku sedang tenggelam dalam mimpi buruk tentang rumah tua yang runtuh. Tiba-tiba, telepon di kamar berdering.

Aku mengangkatnya dengan suara gemetar. Hanya ada hening di ujung sana, diikuti dengan bisikan pelan:

“Aku melihatmu…”

Jantungku berdetak kencang. Aku menutup telepon dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanya prank, atau mungkin suara angin yang terdengar aneh karena badai. Namun, dering telepon kembali terjadi beberapa menit kemudian, kali ini diiringi suara langkah kaki dari lantai atas.

Aku tinggal sendirian di rumah itu—ayahku meninggal ketika aku masih kecil, dan ibuku tinggal di kota lain. Dengan perlahan, aku menyalakan lampu, menatap lorong gelap menuju kamar tamu. Lampu bergetar, seolah merespon ketakutanku.

Aku memutuskan untuk mengecek telepon. Setiap panggilan menunjukkan nomor tak dikenal. Aku mengangkat lagi, dan suara itu terdengar lebih jelas, lebih dekat:

“Aku ada di dalam rumahmu…”

Aku berbalik, menatap sekeliling, tapi lorong kosong. Pintu kamar lain terbuka sedikit, dan aku merasakan hawa dingin menusuk dari celahnya. Saat aku mendekat, lampu mati seketika, meninggalkan aku dalam gelap pekat.

Hanya terdengar suara napas berat, dan bisikan yang semakin dekat:

“Aku melihatmu… aku menunggumu…”

Aku berlari ke dapur, mencoba menyalakan korek api, tapi setiap kali aku menyalakan api, bayangan panjang tampak menari di dinding, mengikuti setiap gerakanku. Aku merasakan tangan dingin menyentuh bahuku. Aku menjerit dan menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa.

Telepon kembali berdering, kali ini dari kamar tidurku sendiri. Dengan napas tersengal, aku mengambilnya. Suara di ujung sana terdengar seperti bercampur antara tawa dan tangisan:

“Lihatlah… aku ada di kamarmu…”

Aku menoleh ke arah kamar, dan di depan pintu, aku melihat bayangan gelap berdiri. Sosok itu tinggi, tanpa wajah, hanya hitam pekat, dan matanya seperti dua lubang kosong. Aku tidak bisa bergerak, kaki terasa seperti tertanam di lantai. Sosok itu melangkah mendekat, dan udara di sekitarku terasa kental, sulit untuk bernafas.

Aku menutup mata dan berdoa. Ketika membuka mata, sosok itu menghilang, tapi telepon tetap berdering, kali ini di telingaku sendiri. Aku mematikan telepon dan melemparkannya ke sudut ruangan. Suara deringnya tetap terdengar, meski telepon tergeletak di lantai.

Pagi datang dengan perlahan, cahaya hujan yang meredup masuk melalui jendela. Rumah itu tampak biasa, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi semalam. Tapi aku tahu, suara itu masih ada, menunggu malam berikutnya, menungguku untuk mengangkat telepon lagi.

Sejak malam itu, aku tidak pernah tidur sendirian lagi. Telepon tetap ada di kamar, deringnya sesekali terdengar, memanggil namaku. Aku belajar satu hal: ada panggilan yang tidak boleh dijawab, dan ada suara yang tidak ingin kau dengar—apalagi ketika tengah malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)

Cerpen 6: Sepotong Roti di Meja Tua

Cerpen Romantis: Surat yang Tak Pernah Terkirim (Karya Risti Windri Pabendan)