Suara dari Loteng

 



Hujan deras malam itu membangunkan suara ketukan dari loteng rumah tua. Awalnya aku mengabaikannya, mengira hanya angin atau atap yang bocor. Tapi suara itu semakin jelas, seperti seseorang berjalan di papan tua, langkahnya berat dan lambat.

Rasa penasaran membuatku perlahan naik ke loteng. Debu beterbangan saat kakiku menapak di lantai kayu yang rapuh, aroma kayu tua menyengat hidungku. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya kegelapan dan bayangan perabot yang ditinggalkan pemilik sebelumnya.

Tiba-tiba terdengar bisikan lembut dari sudut gelap:

“Aku menunggumu…”

Sebuah kain putih melayang perlahan dari kegelapan, seperti menari di udara tanpa arah. Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh ke pintu, tapi rasanya seperti ada sesuatu yang menahan langkahku.

Aku berlari turun tanpa menoleh lagi. Saat mencapai ruang tamu, hujan di luar masih deras, tapi suara ketukan itu tetap terdengar, seakan mengikuti setiap gerakanku. Sejak malam itu, aku selalu mendengar suara itu setiap hujan turun.

Aku tidak berani naik ke loteng lagi… tapi rasanya suara itu selalu ada, menungguku, menatapku dari kegelapan yang tak terlihat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)

Cerpen 6: Sepotong Roti di Meja Tua

Cerpen Romantis: Surat yang Tak Pernah Terkirim (Karya Risti Windri Pabendan)