Parakang di Malam Bulan Gelap
📖 Cerpen Horor Nusantara
Judul: Parakang di Malam Bulan Gelap
Penulis: Windri Pabendan
Di sebuah desa pesisir Sulawesi Selatan, malam tanpa bulan dianggap malam terkutuk. Orang-orang Bugis menyebutnya malam parakang malam ketika makhluk jadi-jadian haus darah berkeliaran mencari mangsa.
Aisyah, gadis belia yang baru pulang mengaji, melewati jalan setapak menuju rumahnya. Angin laut membawa bau amis yang menusuk, bercampur dengan suara desahan aneh. Ia mempercepat langkah.
Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat sosok tetangganya, Mak Laung, berjalan pelan dengan tubuh bungkuk. Namun yang membuat Aisyah terdiam adalah bayangan Mak Laung yang tak bergerak di tanah. Bayangan itu tetap diam meski Mak Laung melangkah.
Hati Aisyah berdegup kencang. Ingatan akan cerita orang tua muncul: parakang selalu menyamar sebagai manusia, tapi mereka tak memiliki bayangan yang hidup.
Mak Laung berhenti, lalu menoleh dengan senyum lebar tak wajar. Dari mulutnya menetes darah segar. Wajahnya perlahan berubah: mata melotot merah, lidah panjang menjulur, dan tubuhnya meregang seolah kulit hendak robek.
“Aku lapar...” suaranya serak, menggema di antara pohon kelapa.
Aisyah berlari sekencang mungkin. Dari belakang, terdengar suara langkah berlari empat kaki menghantam tanah, mendekat cepat. Nafas panas terasa di tengkuknya.
Ketika sampai di rumah panggung, Aisyah menutup pintu rapat-rapat sambil menangis. Dari celah dinding bambu, ia melihat sosok parakang berwujud manusia setengah binatang mencakar-cakar tiang rumah, mencoba masuk.
Malam itu, suara lolongan dan jeritan terdengar hingga subuh. Esok paginya, warga menemukan bekas cakar hitam di tiang rumah Aisyah, dan jejak darah tercecer di tanah.
Sejak itu, setiap malam tanpa bulan, warga desa hanya berani berdiam di dalam rumah, berdoa agar parakang tidak kembali menjemput mereka.
Komentar
Posting Komentar