Palasik dari Tepi Batang Arau

 

📖 Cerpen Horor Nusantara

Judul: Palasik dari Tepi Batang Arau
Penulis: Windri Pabendan



Cerpen

Di sebuah kampung tua dekat Batang Arau, Sumatera Barat, warga selalu waspada saat malam tiba. Khususnya para ibu yang memiliki bayi. Mereka percaya, pada malam tertentu, palasik berkeliaran mencari mangsa.

Palasik bukan sekadar hantu. Ia adalah manusia yang mempelajari ilmu hitam, mengubah dirinya menjadi makhluk tanpa tubuh. Hanya kepala dengan usus dan organ yang menggantung, melayang mencari darah bayi yang masih suci.

Malam itu, Lina yang baru melahirkan merasa gelisah. Bayinya terus menangis tanpa henti, padahal tidak lapar dan tidak sakit. Angin malam masuk melalui celah dinding rumah gadang, membawa aroma anyir yang menusuk.

Tiba-tiba, terdengar suara aneh dari atap rumah: duk... duk... duk... seolah ada yang merayap di atas seng. Lina memeluk bayinya erat-erat.

Saat ia menoleh ke jendela, darahnya seakan berhenti mengalir. Dari luar, tampak kepala seorang perempuan melayang, rambutnya berantakan, ususnya menjuntai, matanya merah menyala. Mulutnya terbuka lebar, lidah panjang menjulur, meneteskan liur hitam.

Itulah palasik.

Makhluk itu menempelkan wajahnya ke kaca jendela, menatap bayi Lina dengan nafsu mengerikan. Bayi itu semakin keras menangis, seolah merasakan bahaya.

Dengan terburu-buru, Lina membaca ayat-ayat pelindung sambil menutupi bayinya dengan kain putih. Palasik meraung marah, suaranya melengking menusuk telinga. Rumah berguncang, atap berderit, angin menderu.

Tiba-tiba terdengar suara gong kecil dipukul dari surau kampung. Para tetua sudah berjaga, membunyikan penangkal. Palasik menjerit, tubuhnya terbakar cahaya merah, lalu menghilang ke kegelapan malam.

Namun sejak malam itu, Lina tahu ancaman belum berakhir. Selama bayinya masih kecil, palasik akan selalu mencari celah untuk datang kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)

Cerpen 6: Sepotong Roti di Meja Tua

Cerpen Romantis: Surat yang Tak Pernah Terkirim (Karya Risti Windri Pabendan)