Lemang Tengah Malam

 


Lemang Tengah Malam

Di sebuah desa kecil di pinggiran hutan Sumatra, ada tradisi tahunan menjelang bulan puasa: membakar lemang bersama. Warga berkumpul, menyalakan api besar, lalu bambu berisi ketan dan santan diletakkan berderet. Biasanya, suasana meriah penuh tawa.

Namun, ada satu aturan yang tidak pernah dilanggar:
“Jangan pernah membakar lemang lewat tengah malam. Api itu akan mengundang sesuatu yang bukan manusia.”

Malam Persiapan

Rudi, pemuda desa, merasa bosan dengan aturan itu. Ia dan dua temannya Jaka dan Beni bersepakat untuk membuktikan bahwa semua itu hanya takhayul.

“Ah, masa iya cuma bakar lemang aja bisa manggil hantu? Kita udah dewasa, jangan kayak anak kecil,” kata Rudi sambil tertawa.

Jaka setuju. “Lagipula, besok lemangnya pasti laku. Kita bikin lebih banyak malam ini.”

Beni agak ragu, tapi ikut saja. Mereka memilih lahan kosong dekat hutan bambu, agak jauh dari rumah warga, agar tidak ditegur orang tua. Api menyala besar, aroma santan dan ketan menyebar, membuat perut lapar.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Angin mulai berembus dingin. Hutan bambu bergoyang, mengeluarkan suara krek-krek yang aneh.

Tamu Tak Diundang

Saat mereka sibuk menjaga api, terdengar suara langkah kaki dari arah hutan. Awalnya samar, lama-lama semakin jelas.

“Eh, siapa tuh? Warga juga mau bikin lemang?” tanya Jaka.

Dari gelap, muncul seorang perempuan. Rambutnya panjang, wajah pucat, dan ia mengenakan kain lusuh yang basah. Ia tersenyum aneh, terlalu lebar.

“Aku boleh… ikut membakar lemang?” suaranya serak, seperti bercampur dengan desir angin.

Beni langsung merinding. “Rud… itu siapa? Kok aku nggak kenal?”

Tapi Rudi menertawakan. “Ya sudahlah, makin banyak makin seru. Duduk, Mbak.”

Perempuan itu duduk di dekat api. Anehnya, bambu-bambu lemang tidak mengeluarkan bunyi letupan seperti biasa. Api bergoyang, padahal angin berhenti. Bau anyir samar tercium, bercampur dengan aroma santan.

Bisikan Tengah Malam

Ketika Rudi mencoba membuka salah satu bambu lemang, ia terkejut. Ketan di dalamnya berubah hitam pekat, seperti darah yang mengental.

“Apa-apaan ini?” katanya.

Perempuan itu menatapnya, matanya hitam legam.
“Lemang untuk kami… yang lapar sejak lama…”

Tiba-tiba dari dalam hutan terdengar bisikan banyak suara. Suara laki-laki, perempuan, anak-anak semuanya berkata serempak:
“Bagi kami… bagi kami…”

Beni menjerit, melempar bambu lemang ke api. Jaka berusaha berdiri, tapi kakinya terasa berat, seperti dipegang banyak tangan tak terlihat.

Perempuan itu tertawa, suaranya nyaring dan memekakkan telinga. Dari balik rambut panjangnya, tampak wajah lain yang menempel banyak wajah, seperti kumpulan arwah yang menjerit bersamaan.

Pelarian

Rudi, Jaka, dan Beni panik. Mereka lari meninggalkan api unggun, tapi suara langkah kaki mengikuti dari belakang. Setiap menoleh, mereka melihat bayangan sosok-sosok hitam berwajah pucat mengejar.

Sesampainya di rumah, Rudi menggedor pintu. Orang tuanya kaget melihat wajah anaknya pucat pasi.

“Apa yang kalian lakukan?” bentak ayah Rudi.

Dengan terbata-bata, mereka menceritakan kejadian di hutan bambu.

Ayahnya hanya menggeleng. “Sudah kubilang, aturan itu bukan main-main. Lemang tengah malam memang bukan untuk manusia.”

Sejak malam itu, Beni jatuh sakit. Ia sering mengigau, mulutnya berbisik: “Bagi kami… bagi kami…”

Jaka pindah dari desa, tidak pernah kembali.

Sedangkan Rudi, setiap kali melewati hutan bambu, ia mencium bau santan hangus bercampur darah. Dan di telinganya selalu terdengar suara perempuan itu:
“Aku boleh ikut membakar lemang lagi…?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)

Cerpen 6: Sepotong Roti di Meja Tua

Cerpen Romantis: Surat yang Tak Pernah Terkirim (Karya Risti Windri Pabendan)