: Jeritan dari Hutan Rumbun
Hutan rumbun di pedalaman Kalimantan terkenal lebat dan gelap. Bahkan siang hari, sinar matahari sulit menembus rapatnya pepohonan. Warga desa Dayak selalu memperingatkan: jangan sembarangan masuk ke dalam hutan tanpa izin penjaga gaibnya.
Arif, seorang mahasiswa pencinta alam, datang bersama dua temannya untuk meneliti tumbuhan obat. Mereka menolak peringatan tetua desa, merasa berbekal kompas dan GPS sudah cukup.
Namun saat memasuki hutan, udara berubah berat, seperti menekan dada. Burung-burung mendadak bungkam. Hanya suara ranting patah yang terdengar, entah dari mana.
Malam pertama, mereka mendirikan tenda. Saat api unggun mulai padam, terdengar suara-suara aneh dari kegelapan: tawa perempuan bercampur lolongan binatang. Salah satu temannya, Dedi, melihat sosok tinggi berwarna hitam pekat berdiri di antara pohon ulin. Tubuhnya kurus, matanya merah menyala, dengan mulut yang menganga terlalu lebar, seolah hendak menelan api unggun.
Dedi menjerit, lalu pingsan.
Arif mencoba menolong, namun ia justru melihat sosok lain: seorang wanita berambut panjang, wajahnya tertutup kabut, berdiri di atas dahan pohon. Dari mulutnya mengalir darah hitam menetes ke tanah.
“Tinggalkan hutan ini... atau kalian tidak akan pulang...” suara itu bergema, seperti berasal dari ribuan mulut.
Arif panik. Kompas berputar tak tentu arah, GPS kehilangan sinyal. Seolah-olah hutan menelan mereka bulat-bulat.
Keesokan harinya, hanya Arif yang kembali ditemukan di pinggir desa pucat, tubuh penuh goresan, matanya kosong menatap lurus. Dua temannya tak pernah ditemukan.
Orang-orang desa percaya, mereka sudah menjadi bagian dari lelembut hutan rumbun penunggu abadi yang tak akan pernah melepaskan mangsanya.
Komentar
Posting Komentar