Hutan Larangan
Cerpen Horor Nusantara: Hutan Larangan
Di sebuah desa di lereng gunung Jawa Tengah, ada sebidang hutan yang sejak dulu dianggap keramat. Warga menyebutnya Hutan Larangan. Tidak ada yang berani masuk terlalu dalam, apalagi saat senja. Pantangannya jelas: jangan bersiul, jangan menebang pohon besar, dan jangan menyebut nama sendiri terlalu keras.
Konon, hutan itu adalah tempat bersemayamnya arwah prajurit yang gugur dalam perang ratusan tahun silam. Mayat mereka dikuburkan asal-asalan di bawah pohon-pohon raksasa. Arwahnya gelisah, tidak pernah tenang.
Awal Kisah
Cerita ini bermula dari lima pemuda desa: Raka, Joni, Bayu, Aldi, dan Tirta. Mereka sering nongkrong bersama, dianggap nakal karena suka melawan aturan orang tua.
Suatu sore, mereka bercanda soal Hutan Larangan.
“Katanya kalau masuk situ, bisa hilang nggak balik. Ah, masa iya?” ujar Joni sambil menyalakan rokok.
Bayu menimpali, “Palingan itu cuma biar orang desa nggak nebang pohon sembarangan. Aku dengar di dalam hutan ada kayu jati besar. Kalau dijual, bisa kaya mendadak.”
Raka yang paling berani langsung menantang, “Besok malam kita buktikan. Kita masuk hutan itu. Kalau nggak ada apa-apa, berarti cuma dongeng.”
Tirta, yang agak penakut, menolak. “Gila! Itu bukan tempat main-main. Aku pernah dengar cerita, ada orang hilang sampai sekarang nggak ketemu.”
Namun empat temannya menertawakan. Aldi, yang suka memprovokasi, menepuk bahu Tirta. “Kalau takut, jangan ikut. Nanti kalau kami pulang bawa kayu jati, jangan iri.”
Akhirnya, meski hatinya tidak tenang, Tirta ikut juga. Ia tidak mau dicap pengecut.
Malam di Hutan
Malam itu, tepat pukul sembilan, mereka berlima masuk hutan dengan membawa senter dan parang. Bulan pucat menggantung, cahaya redup menembus kabut tipis.
Awalnya, hutan itu terasa biasa saja. Suara serangga bersahut-sahutan. Pohon jati menjulang tinggi. Daun-daun kering berderak di bawah langkah mereka.
Namun semakin dalam, udara terasa berat. Seperti ada ribuan mata yang mengawasi.
“Eh, lihat deh pohon itu,” kata Raka sambil menunjuk ke sebuah pohon besar. Batangnya hitam, dipenuhi akar menggantung seperti rambut panjang.
Bayu tersenyum sinis. “Cocok nih. Kayu segede gini kalau dijual bisa buat rumah satu.”
Tirta merinding. “Jangan, Bay. Jangan sentuh pohon itu. Aku nggak enak perasaan.”
“Dasar penakut!” ejek Aldi. Ia menebaskan parang ke akar pohon. Suara denting aneh terdengar, seperti logam membentur sesuatu yang bukan kayu.
Saat itu juga, angin berhembus kencang. Suara jangkrik mendadak hilang. Hening.
Gangguan Pertama
Tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa lirih. Hehehe…
Mereka berlima terdiam, saling pandang.
“Siapa itu? Ada orang juga?” Joni mencoba menyorotkan senter, tapi cahaya redup seperti tertelan gelap.
Di balik pohon besar, tampak sosok perempuan berambut panjang. Wajahnya samar, tapi matanya merah menyala. Ia melambaikan tangan pelan, mengundang.
Tirta langsung pucat. “Aku bilang apa! Kita harus pulang sekarang!”
Namun Raka, keras kepala, melangkah maju. “Ah, paling orang iseng. Nggak usah takut.”
Saat ia mendekat, sosok itu menghilang begitu saja. Yang tersisa hanya bau anyir menyengat, seperti darah bercampur tanah basah.
Jalan yang Berputar
Mereka memutuskan kembali pulang. Tapi anehnya, jalan yang mereka lalui seakan berputar.
Bayu menandai pohon dengan parang. Setelah berjalan hampir setengah jam, mereka kembali ke pohon yang sama.
“Gila! Kita muter-muter!” teriak Joni.
Tirta mulai menangis ketakutan. “Aku sudah bilang, jangan masuk hutan ini…”
Aldi berusaha menenangkan. “Tenang, tenang. Kita cari jalan lain. Kalau panik, tambah tersesat.”
Namun makin lama, hutan terasa asing. Pohon-pohon semakin rapat, akar menjulur seperti tangan yang siap mencekik.
Suara Panggilan
Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara lirih memanggil.
“Raka…”
“Bayu…”
“Joni…”
Mereka semua menoleh kaget. Suara itu menyebut nama mereka satu per satu, seperti berasal dari dalam kegelapan.
Aldi menantang. “Hei! Siapa yang manggil? Keluar kau kalau berani!”
Suara itu semakin dekat, semakin jelas. Namun yang terdengar hanyalah nama mereka, diulang-ulang.
Tiba-tiba, suara itu juga menyebut: “Tirta…”
Tirta menutup telinga. “Berhenti! Jangan sebut namaku!”
Tapi sudah terlambat. Dari balik pepohonan, muncul bayangan hitam setinggi tiga meter. Matanya kosong, mulutnya robek lebar. Suaranya bergema:
“Temani kami…”
Satu Per Satu
Mereka berlari panik. Senter terjatuh, hanya cahaya remang bulan yang tersisa.
Joni yang paling belakang tiba-tiba menjerit. Ketika yang lain menoleh, tubuh Joni sudah diseret oleh tangan-tangan hitam dari tanah. Mulutnya berteriak minta tolong, tapi kemudian lenyap ditelan tanah.
“Joni!!” Raka berusaha menolong, tapi Bayu menariknya. “Nggak bisa! Kita harus lari!”
Mereka berlari tanpa arah. Namun suara tawa perempuan terus mengikuti, makin lama makin keras.
Hantu Prajurit
Setelah entah berapa lama, mereka sampai di sebuah lapangan kecil di tengah hutan. Di sana, terlihat banyak sosok berdiri. Puluhan pria dengan wajah rusak, sebagian tanpa kepala, sebagian membawa tombak berkarat. Mata mereka kosong, tubuhnya berlumuran darah kering.
“Ya Allah…” Tirta hampir pingsan.
Salah satu sosok maju ke depan. Suaranya berat, seperti ribuan orang bersamaan:
“Kami gugur tanpa nama… jangan ganggu peristirahatan kami…”
Aldi berteriak, “Kami nggak tahu! Maafkan kami!”
Namun sosok itu mengangkat tangannya. Dari tanah, muncul tangan-tangan hitam yang meraih kaki Aldi. Aldi menjerit, tubuhnya ditarik masuk tanah perlahan. Suaranya menghilang, hanya tersisa bau anyir menusuk.
Putus Asa
Kini tinggal tiga orang: Raka, Bayu, dan Tirta. Mereka berlari, tapi hutan seakan tak berujung.
Bayu tiba-tiba terhenti. Matanya kosong, tubuhnya kaku. Ia berjalan pelan ke arah kegelapan, seolah ada yang memanggil.
“Bayu! Jangan!” Raka mencoba menariknya, tapi Bayu tersenyum aneh. “Mereka butuh teman…”
Tubuh Bayu lenyap begitu saja di balik kabut, tanpa suara.
Raka dan Tirta kini hanya berdua. Nafas mereka tersengal, tenaga hampir habis.
Akhir yang Mengerikan
Mereka tiba di tepi sungai kecil. Raka berusaha menenangkan diri. “Kita bisa ikut aliran sungai, pasti sampai ke luar.”
Namun sebelum sempat melangkah, sosok perempuan berambut panjang tadi muncul di tengah sungai. Rambutnya menjuntai, matanya merah, senyum lebarnya semakin menyeramkan.
“Temani aku…” bisiknya.
Tirta menjerit histeris. Ia berlari menyeberangi sungai, tapi terjatuh. Tubuhnya ditarik ke dalam air, menghilang tanpa jejak.
Raka sendirian. Ia berlari sekuat tenaga, namun suara-suara itu terus mengikuti. Akhirnya, ia pingsan di bawah pohon besar.
Epilog
Keesokan harinya, warga desa menemukan Raka tergeletak di tepi hutan, wajahnya pucat, matanya kosong. Ia masih hidup, tapi tidak lagi waras. Setiap malam ia berteriak menyebut nama teman-temannya, seolah masih terjebak di hutan.
Joni, Bayu, Aldi, dan Tirta tidak pernah ditemukan.
Sejak itu, warga desa semakin takut dengan Hutan Larangan. Mereka percaya, arwah prajurit yang gugur masih berkeliaran, mencari teman agar tidak sendirian.
Dan aturan itu semakin ditegakkan:
Jangan bersiul, jangan menebang pohon besar, jangan menyebut nama keras-keras di dalam hutan.
Karena jika melanggar, hutan akan menagih nyawa.
Komentar
Posting Komentar