Darah di Pohon Randu Alas
Malam itu, langit di Dusun Karangjati tampak muram. Angin membawa bau tanah basah bercampur wangi bunga kamboja yang menusuk. Di tengah pematang sawah, berdiri sebuah pohon randu alas tua yang sudah dianggap keramat sejak puluhan tahun silam.
Orang-orang desa selalu berpesan, siapa pun yang melintas selepas Isya jangan sekali-kali menoleh ke arah pohon itu. Karena di sana, diyakini bersemayam arwah wanita yang mati gantung diri pada zaman penjajahan.
Darma, pemuda tanggung yang baru pulang dari kota, menertawakan larangan itu. “Ah, cuma takhayul orang kampung,” gumamnya. Dengan motor tuanya, ia sengaja memilih jalan sawah, melewati pohon randu yang menjulang hitam melawan langit.
Saat melintas, mesin motornya tiba-tiba mati. Sunyi mendadak merayap. Darma mencoba men-starter berulang kali, tapi sia-sia. Saat itulah ia mendengar suara lirih, seperti perempuan menangis dari balik pohon.
“...tolooong...”
Darah Darma berdesir. Ia menoleh perlahan, dan di bawah pohon randu, terlihat sosok perempuan berambut panjang terurai, kain putihnya lusuh berlumuran tanah, dan lehernya terlilit kain merah dengan bekas luka menganga. Tubuhnya menggantung tanpa tali.
Mata perempuan itu kosong, tapi perlahan melirik ke arah Darma. Senyum lebar terbentuk, memperlihatkan gigi hitam penuh darah.
“Temani aku... jangan tinggalkan aku sendirian...” bisiknya.
Darma berteriak, tapi suaranya lenyap ditelan angin. Tubuhnya kaku, tidak bisa bergerak. Sosok itu semakin mendekat tanpa berjalan, hanya melayang. Aroma bunga kamboja semakin menyengat, bercampur amis darah.
Keesokan harinya, warga desa menemukan motor Darma tergeletak di tepi sawah. Pohon randu masih berdiri diam, tapi batangnya penuh noda merah pekat yang menetes ke tanah.
Dan sejak malam itu, suara tawa perempuan terdengar jelas setiap angin malam melewati Dusun Karangjati.
Komentar
Posting Komentar