Bisikan di Jalan Lurus
Cerpen Horror: Jalan Lurus di Tepi Sawah
Malam di desa selalu punya caranya sendiri untuk menciptakan kesunyian. Tidak seperti kota, di mana lampu jalan dan suara kendaraan selalu ada untuk menemani perjalanan malam, di desa hanya ada suara jangkrik, sesekali lolongan anjing, dan bulan yang menggantung pucat di langit. Bagi sebagian orang, itu menenangkan. Tapi bagi Sinta, malam adalah waktu yang selalu menegangkan apalagi jika ia harus melewati jalan lurus di tepi sawah.
Orang-orang desa sudah sejak lama memberi peringatan: “Jangan pernah berhenti di jalan lurus itu, apalagi kalau ada yang memanggil.”
Cerita itu sudah seperti mantra turun-temurun. Anak-anak kecil tumbuh dengan kisahnya, orang dewasa mengulanginya dengan nada serius, dan para sesepuh menyebut jalan itu dengan nama yang membuat bulu kuduk meremang: “Jalan Bekas Kuburan.”
Awal Malam
Sinta baru saja pulang dari rumah temannya, Rina. Mereka berdua menghabiskan sore untuk belajar bersama karena besok ada ujian akhir di sekolah. Sinta sebenarnya ingin menginap saja, tapi ibunya sedang sakit di rumah, jadi ia merasa harus pulang.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika ia mengayuh motor bebek tuanya melewati jalan desa yang mulai sepi. Lampu-lampu rumah warga padam, hanya sesekali terlihat cahaya redup dari obor di teras.
Ketika sampai di perempatan, Sinta menelan ludah. Di depannya ada dua pilihan: jalan memutar yang lebih terang karena melewati perkampungan, atau jalan lurus yang lebih cepat tapi bersebelahan dengan sawah dan hutan bambu.
Ia berhenti sebentar. Angin malam meniup rambutnya, dingin menusuk sampai ke tulang.
“Kalau muter, bisa setengah jam lebih lama,” gumamnya. “Kalau lurus… ya Allah, semoga nggak apa-apa.”
Ia akhirnya memilih jalan lurus.
Jalan Angker
Jalan itu memang lurus panjang, membelah sawah yang luas di kanan-kirinya. Tidak ada rumah, tidak ada lampu jalan, hanya kabut tipis yang menggantung rendah. Sinta menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Awalnya tidak ada yang aneh. Motor berjalan stabil, hanya suara mesin yang menemani. Tapi semakin jauh masuk ke jalan itu, semakin ia merasa tidak sendirian.
Ada suara lirih. Awalnya ia pikir hanya angin, tapi semakin lama, semakin jelas: seperti bisikan.
“… pulang…”
“… jangan sendirian…”
Sinta menoleh ke kanan gelap gulita. Menoleh ke kiri sawah kosong, hanya bayangan pepohonan.
Ia menggigit bibir. “Biasa aja, Sin. Itu cuma pikiranmu sendiri.”
Namun tiba-tiba mesin motornya tersendat. Dug-dug-dug… lalu mati.
Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia turun, mencoba men-starter. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak berhasil. Padahal bensin masih penuh.
Dan saat itulah, dari kaca spion, ia melihat sesuatu.
Perempuan di Belakang
Seorang perempuan berdiri di belakang motornya. Rambut panjangnya basah menutupi wajah, bajunya lusuh penuh lumpur. Ia diam saja, tapi tubuhnya perlahan mendekat.
Sinta membeku. Tangannya gemetar hebat, kunci motor terlepas jatuh ke tanah.
“Kenapa berhenti di sini, Mbak?” suara perempuan itu serak, dalam, seperti keluar dari tanah.
Sinta berusaha bicara, tapi suaranya hilang.
Perempuan itu tersenyum. Senyuman yang tidak wajar terlalu lebar, seperti robek sampai ke pipi. Dari balik rambutnya menetes air keruh bercampur darah.
Bisikan kembali terdengar, kali ini lebih dekat, seperti langsung di telinga Sinta:
“Temani aku… jangan pulang sendirian…”
Doa dan Pelarian
Dalam kepanikan, Sinta menutup mata rapat-rapat. Ia ingat doa yang diajarkan ibunya, doa pendek yang selalu diminta untuk diucapkan kalau merasa diganggu. Dengan terbata-bata, ia membacanya.
Tiba-tiba, jari-jarinya meraba kunci motor yang jatuh. Ia cepat-cepat memasukkannya, men-starter. Ajaibnya, mesin menyala sekali coba.
Sinta langsung tancap gas, tidak berani menoleh. Jalan lurus itu terasa tidak habis-habis. Kabut makin tebal, suara bisikan semakin ramai seolah ada banyak orang yang berbarengan berbisik dari dalam sawah.
“… sini…”
“… jangan pergi…”
“… temani…”
Air matanya menetes tanpa sadar. Tangannya gemetar memegang setang, tapi ia memaksa motor melaju secepat mungkin.
Akhirnya, lampu rumah penduduk terlihat. Ia menghela napas panjang, seolah baru selamat dari maut.
Sambutan Ayah
Setibanya di rumah, ayahnya sudah menunggu di teras dengan wajah pucat.
“Kamu lewat jalan lurus?” tanya ayahnya tegang.
Sinta mengangguk, masih gemetar.
Ayahnya menarik napas panjang, menatap kosong ke arah jalan.
“Sudah sering Bapak bilang, jangan lewat situ malam-malam. Itu bekas kuburan massal zaman dulu.”
Sinta terdiam. Kuburan massal?
Ayahnya bercerita singkat. Dulu, pada masa perang, banyak korban dibuang begitu saja di sawah itu. Mayat-mayat ditimbun tanpa nama, tanpa doa. Sejak saat itu, jalan lurus tersebut dianggap angker. Banyak yang mengaku diganggu, bahkan ada yang hilang tidak kembali.
Sinta merinding. Ingatan tentang perempuan berambut panjang tadi masih jelas. Senyum lebarnya, suara bisikan, bau tanah basah semua masih melekat.
Malam Kedua
Sinta pikir kejadian itu selesai begitu saja. Tapi malam berikutnya, ketika ia sudah tertidur, ia bermimpi.
Dalam mimpinya, ia kembali berada di jalan lurus itu. Kabut lebih pekat, dan perempuan berambut panjang tadi berdiri di tengah jalan. Tapi kali ini, di belakangnya ada banyak sosok lain. Bayangan tubuh manusia, sebagian tanpa wajah, sebagian hanya berupa siluet hitam.
Mereka semua berbisik bersamaan:
“Temani kami… jangan pulang sendirian…”
Sinta terbangun dengan teriakan. Nafasnya memburu, keringat dingin membasahi tubuhnya.
Ibunya masuk ke kamar dengan wajah khawatir.
“Kamu mimpi buruk lagi, Nak?”
Sinta hanya mengangguk, tidak berani menceritakan.
Gangguan Berlanjut
Sejak malam itu, gangguan tidak berhenti.
Kadang, ketika ia sedang belajar di kamar, terdengar suara motor berhenti di depan rumah, padahal tidak ada siapa-siapa. Kadang ada suara bisikan lirih di telinganya, meski ia sendirian. Bahkan beberapa kali, ia melihat sosok perempuan itu berdiri di dekat sumur belakang rumah, menatapnya dari kejauhan.
Teman-temannya mulai menyadari perubahan pada diri Sinta. Ia jadi murung, sering melamun, matanya selalu sembab.
Rina, sahabatnya, akhirnya bertanya. “Sin, kamu kenapa sih? Belakangan aneh banget.”
Sinta hampir bercerita, tapi ia takut dianggap gila. Ia hanya menggeleng.
Cerita dari Sesepuh
Suatu sore, Sinta memberanikan diri menemui Mbah Karyo, sesepuh desa. Ia ingin tahu kebenaran jalan itu.
Mbah Karyo menatapnya lama. “Kamu sudah lewat sana malam-malam, ya?”
Sinta terkejut. “Mbah tahu?”
Orang tua itu menghela napas berat. “Jalan itu memang bukan sekadar angker. Arwah yang ada di sana masih gentayangan. Mereka meninggal tanpa dimandikan, tanpa disholatkan, tanpa kuburan yang layak. Mereka menunggu orang untuk menemani, biar tidak sendiri.”
“Terus… kenapa mereka ngikutin aku?” suara Sinta bergetar.
“Karena kamu berhenti,” jawab Mbah Karyo tegas. “Kalau sudah dengar panggilan, jangan pernah berhenti. Sekali berhenti, mereka akan menganggapmu bagian dari mereka.”
Tubuh Sinta langsung lemas. Jadi itulah sebabnya perempuan itu terus menghantuinya.
Malam Terakhir
Malam ketiga, gangguan semakin kuat. Sinta mendengar bisikan bahkan saat bersama keluarganya. Ketika makan malam, ia mendengar suara lirih di telinganya padahal ayah-ibunya sedang diam.
“… malam ini waktunya…”
Ia pucat. Ayahnya sadar, tapi sebelum sempat bertanya, listrik di rumah tiba-tiba padam.
Gelap gulita.
Dalam gelap, Sinta mendengar langkah kaki banyak orang dari arah halaman. Tap… tap… tap… Seperti puluhan orang berjalan mendekat.
Ayahnya menyalakan senter, tapi cahaya hanya menerangi kabut tipis yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.
Sinta menjerit saat melihat perempuan itu berdiri di pintu rumah, rambut basah meneteskan air, senyum lebarnya semakin mengerikan. Di belakangnya, sosok-sosok gelap memenuhi halaman, bergerak pelan ke arah rumah.
“Temani kami…” bisik mereka serempak.
Ayahnya meraih Sinta, mencoba menariknya ke kamar. Tapi entah bagaimana, tubuh Sinta menjadi berat, seolah ada banyak tangan tak kasatmata yang menariknya ke arah pintu.
Suara tangis ibunya pecah. Ayahnya berteriak membaca doa keras-keras.
Namun bisikan itu semakin keras, menenggelamkan semua suara:
“Jangan pulang sendirian… jangan pulang sendirian…”
Epilog
Keesokan paginya, warga desa geger.
Rumah Sinta terbuka lebar, listrik sudah kembali menyala. Ayah dan ibunya pingsan di ruang tamu, tidak sadarkan diri.
Tapi Sinta hilang.
Di jalan lurus dekat sawah, motor bebek tuanya ditemukan tergeletak, mesinnya masih hangat. Tidak ada jejak kaki, tidak ada tanda-tanda keberadaan dirinya.
Sejak malam itu, orang-orang yang melewati jalan lurus kadang mendengar suara baru di antara bisikan: suara perempuan muda menangis, seolah memohon.
“… aku ingin pulang…”
Komentar
Posting Komentar