Bayangan di Ombak Selatan

 


Pantai Parangwedang sore itu terlihat indah. Ombak menggulung deras, memantulkan cahaya matahari keemasan. Namun warga sekitar selalu mengingatkan: jangan memakai pakaian hijau di pantai itu, dan jangan berlama-lama setelah matahari terbenam.

Reno, seorang fotografer muda, tidak peduli. Ia datang khusus untuk memburu momen senja. Dengan santai ia mengenakan jaket hijau, lalu berjalan mendekati bibir pantai.

Saat matahari perlahan tenggelam, ombak tiba-tiba berubah tinggi. Angin laut berhembus dingin menusuk. Dari kejauhan, Reno melihat sosok perempuan berdiri di atas karang, rambutnya panjang terurai, kainnya putih panjang berkibar diterpa angin, wajahnya samar tertutup bayangan.

Seketika kamera Reno mati. Ia mencoba menyalakannya kembali, namun gagal. Saat menoleh, perempuan itu sudah berdiri hanya beberapa langkah darinya. Kulitnya pucat kehijauan, matanya tajam memantulkan kilau laut, bibirnya tersenyum namun menyisakan kengerian.

“Kenapa kau memakai warna itu...?” suaranya bergema seperti datang dari dasar laut.

Reno terdiam, tubuhnya gemetar. Ombak besar menggulung, seolah hendak menariknya masuk. Sosok perempuan itu mendekat, lalu menyentuh bahunya dengan tangan dingin seperti es.

“Sekarang kau milikku...”

Teriakan Reno hilang ditelan suara deburan ombak. Keesokan harinya, warga menemukan kameranya terdampar di pasir, penuh pasir basah. Layar kamera pecah, namun satu foto tersisa: gambar sosok perempuan bergaun putih dengan mata menyala kehijauan, berdiri tepat di belakang Reno.

Sejak itu, banyak yang mengaku melihat bayangan wanita di atas karang setiap senja. Laut Selatan kembali menelan korban, dan legenda itu semakin hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Kehidupan: Rahasia dalam Kotak Kayu Ayah (Karya Risti Windri Pabendan)

Cerpen 6: Sepotong Roti di Meja Tua

Cerpen Romantis: Surat yang Tak Pernah Terkirim (Karya Risti Windri Pabendan)