Bayangan di Cermin
Aku selalu punya kebiasaan buruk: menatap cermin terlalu lama, terutama saat malam hari. Dulu, aku pikir itu hanya cara untuk memeriksa rambut atau wajahku sebelum tidur. Tapi malam itu, semuanya berubah.
Aku baru saja pindah ke rumah tua yang diwariskan nenekku. Rumah itu berdebu, dengan perabotan antik dan cermin-cermin besar di hampir setiap ruangan. Malam itu, aku berjalan ke kamar mandi untuk gosok gigi, dan saat menyalakan lampu, aku melihat sesuatu yang aneh.
Cermin di depanku tampak biasa—sampai aku menyadari bayanganku bergerak sendiri. Bukan mengikuti gerakanku, tapi bergerak secara mandiri. Aku mengedipkan mata, berpikir itu hanya imajinasiku, tapi bayangan itu tetap tersenyum, padahal aku sendiri tidak.
Hati mulai berdebar. Aku mencoba menutup lampu dan kembali ke kamar tidur, tapi saat aku berbalik, bayangan itu muncul di pintu kamar, melayang tanpa suara. Aku menjerit, tapi suaraku tersedak di tenggorokan. Bayangan itu menatapku, dan kemudian menghilang begitu saja, meninggalkan kegelapan.
Malam berikutnya, suara-suara aneh mulai terdengar: langkah kaki di lantai atas, bisikan di lorong, dan suara tertawa pelan dari cermin. Aku tidak berani menatapnya lagi, tapi rasa penasaran membuatku kembali. Kali ini, bayangan itu bergerak lebih dekat, mencondongkan kepalanya seperti ingin mengamati wajahku dari dekat.
Aku mencoba berbicara padanya:
“Siapa kamu?”
Bayangan itu tersenyum, tapi tidak menjawab. Sebaliknya, cermin memantulkan wajahku sendiri, tapi bukan wajah yang kukenal. Wajah itu pucat, matanya hitam, dan senyumannya jauh lebih menyeramkan daripada yang bisa kubayangkan.
Sejak malam itu, bayangan itu muncul setiap kali aku menatap cermin. Kadang hanya sekilas, kadang penuh tatapan yang menembus pikiranku. Aku mencoba menutupi semua cermin di rumah, tapi bayangan itu tetap muncul di tempat-tempat yang tidak terduga di permukaan gelap lemari, di jendela, bahkan di layar laptopku.
Aku mulai merasa tergila-gila. Tidur tidak nyenyak, makan tidak berselera, dan setiap kali aku menutup mata, bayangan itu menatapku dari kegelapan. Teman-temanku mulai khawatir, tapi aku tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin bayangan di cermin bisa hidup sendiri?
Suatu malam, aku mencoba sesuatu yang nekat. Aku membawa cermin besar ke tengah ruang tamu, menyalakan lilin di sekitarnya, dan menatap bayangan itu. Kali ini, bayangan itu bergerak keluar dari cermin seperti kabut hitam yang perlahan membentuk sosok.
Aku mundur, tapi bayangan itu menempel di kakiku. Aku menjerit, dan tiba-tiba semuanya hilang. Lampu menyala, bayangan lenyap, dan rumah kembali tenang. Tapi aku tahu, ketenangan itu hanya sementara.
Aku memutuskan meninggalkan rumah itu. Pindah ke kota lain, tinggal di apartemen tanpa cermin besar. Tapi kadang, saat aku menyalakan cermin kecil untuk bercukur atau merapikan rambut, aku melihat sekilas bayangan itu, tersenyum, menunggu, menatap dari dunia lain.
Aku belajar satu hal: ada bayangan yang bukan milikmu, ada cermin yang bukan hanya memantulkan, dan ada ketakutan yang akan selalu mengikutimu, bahkan ketika kau lari sejauh apapun.
Sejak malam itu, aku selalu menutup cermin sebelum tidur. Tapi bayangan itu… selalu ada.
Komentar
Posting Komentar