Bayangan di Cermin
Malam itu, hujan turun deras di kota tua yang selalu diselimuti kabut. Aku baru saja pindah ke rumah peninggalan nenek yang sudah lama kosong. Rumah itu besar, dengan lantai kayu berdecit dan jendela-jendela tua yang berembun. Semua orang di lingkungan itu menatap rumah itu dengan pandangan aneh seolah mereka tahu sesuatu yang tidak aku ketahui.
Saat malam pertama, aku menata kamar tidur. Di sudut ruangan ada cermin tua yang retak sedikit di salah satu pojoknya. Awalnya aku mengira itu hanya cermin biasa, tapi ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman setiap melihatnya. Pantulannya terasa… berbeda. Tidak persis seperti ruangan sekitarnya, ada bayangan samar yang bergerak sendiri di dalamnya.
Aku mencoba mengabaikannya. “Mungkin imajinasiku saja,” gumamku. Tapi malam kedua, saat hujan semakin deras, aku mendengar suara langkah ringan di lorong rumah. Langkah itu berhenti tepat di depan kamar tidurku. Aku menahan napas, memalingkan kepala, dan pandangan mataku tertumbuk pada cermin itu. Bayangan samar kini lebih jelas: sosok hitam tanpa wajah, berdiri menatapku.
Aku menjerit dan menutup mata, tapi ketika membuka lagi, bayangan itu masih di sana. Tubuhku gemetar, keringat dingin menetes di pelipis. Aku mencoba melangkah mundur, tapi kakiku terasa berat, seperti ditahan sesuatu. Suara itu semakin dekat, terdengar bisikan lirih:
“Lihat aku…”
Aku berlari keluar kamar, menuruni tangga dengan panik. Di ruang tamu, lampu gantung bergoyang meski tidak ada angin. Semua perabot seolah hidup, bergetar di tempatnya. Aku mencoba membuka pintu depan, tapi terkunci sendiri. Jantungku berdegup kencang, aku menjerit memanggil bantuan, tapi hujan dan angin menelan suaraku.
Aku kembali ke kamar, merasa tidak ada tempat lain untuk lari. Bayangan di cermin kini tidak hanya menatap, tapi perlahan bergerak keluar dari pantulan. Sosok itu semakin nyata, langkahnya berat, menapak di lantai kayu dengan suara yang mengerikan. Aku menempel di dinding, mencoba menghindari tatapan hitamnya.
Tiba-tiba, cermin itu retak semakin besar, menyebarkan garis-garis hitam di seluruh permukaannya. Sosok itu mencondongkan tubuh ke arahku, wajahnya kosong, matanya hanya lubang gelap. Panik, aku memecahkan cermin dengan kursi yang ada di dekatku. Pecahan kaca beterbangan, namun bayangan itu tidak hilang. Sebaliknya, ia terdengar tertawa, tawa dingin yang menusuk tulang.
Aku menutup mata, memeluk diri sendiri, dan berdoa. Setelah beberapa menit, rumah itu hening. Perlahan aku membuka mata, dan sosok itu menghilang. Cermin yang pecah itu kini kosong, hanya retakan yang menakutkan tersisa. Aku menghela napas lega, mencoba menenangkan diri.
Namun, malam berikutnya, suara langkah itu kembali. Kali ini, terdengar dari lantai atas. Aku memberanikan diri naik, perlahan menapaki tangga yang berdecit. Setiap langkah menimbulkan gema yang panjang, membuat jantungku semakin tidak tenang. Saat mencapai lantai atas, aku melihat sebuah pintu tertutup yang sebelumnya tidak ada di rumah ini.
Pintu itu terbuat dari kayu tua, dengan ukiran aneh dan retak di beberapa bagian. Aku mendekat, dan terasa hawa dingin menusuk tubuh. Tanganku gemetar saat membuka pintu, dan yang kutemukan membuat darahku membeku. Di dalam kamar, dindingnya dipenuhi cermin-cermin kecil, dan setiap cermin menampilkan bayangan yang berbeda. Semua bayangan itu menatapku, bergerak seolah hidup.
Aku berbalik untuk lari, tapi pintu tertutup sendiri dengan keras. Kini aku terperangkap, dikelilingi oleh puluhan mata gelap yang menatap tajam. Bayangan-bayangan itu mulai keluar dari cermin, satu per satu, dan aku merasa tubuhku lumpuh ketakutan. Suara mereka berbisik serentak:
“Kamu tidak seharusnya di sini…”
Aku menutup mata dan berteriak sekuat tenaga. Saat membuka mata lagi, semuanya hilang. Rumah itu sunyi, hanya terdengar rintik hujan di luar. Aku berlari turun dan keluar dari rumah, tanpa menoleh lagi.
Sejak malam itu, aku tidak pernah kembali. Rumah itu tetap berdiri, menunggu pengunjung berikutnya. Tapi setiap kali hujan turun di kota tua itu, penduduk setempat mendengar suara langkah di dalam rumah suara yang mengikuti dan menatap dari cermin-cermin yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Aku menulis ini sebagai peringatan: jangan pernah memasuki rumah yang sudah lama kosong, apalagi melihat terlalu lama ke cermin yang tampak biasa. Karena di balik pantulan itu, ada sesuatu yang selalu menunggu, siap membawa siapa pun ke dalam bayangannya yang tak berwajah.
Komentar
Posting Komentar